contoh community based tourism adalah

  • Future Career
  • Why Study Tourism?
  • Organization Structure
  • Study abroad program

Community-Based Tourism

Pendekatan pembangunan dan pengembangan kepariwisataan berbasis komunitas ( community-based tourism – CBT ) sering dipandang sebagai alat dalam pengentasan kemiskinan terutama di negara-negara berkembang. Terdapat 5 kriteria yang dikembangkan oleh para ahli sebagai tolok ukur kesuksesan pembangunan kepariwisataan:

  • Manfaat yang diperoleh dari CBT harus terdistribusikan secara merata ke seluruh masyarakat di destinasi
  • Manajemen kepariwisataan yang baik dan dan berhati-hati.
  • CBT harus memiliki kemitraan yang kuat dan dukungan baik dari dalam dan luar komunitas
  • Keunikan daya tarik harus dipertimbangkan untuk mempertahankan keberlanjutan destinasi
  • Pelestarian lingkungan tidak boleh diabaikan.

Namun dalam pendekatan CBT ini seolah-olah menempatkan masyarakat sebagai objek pengembangan kepariwisataan bukan sebaliknya. Pendekatan seperti menempatkan masyarakat sebagai kendaraan dalam intrik dalam berbagai rencana pengembangan kepariwisataan di Indonesia. Dalam jangka pendek pendekatan ini bisa berhasil namun dalam jangka panjang keberlanjutan CBT masih perlu dipertanyakan.

Bali merupakan sebuah contoh bagaimana komunitas lokal dalam skala yang besar mendapatkan manfaat dari kepariwisataan. Komunitas lokal Bali kemudian berangsur-angsur secara kolektif menyadari pariwisata merupakan sumber utama perekonomian di pulau tersebut. Setelah tahun 1966 Pariwisata di Bali menjadi solusi terhadap masalah ketenagakerjaan dan pendapatan masyarakat (Pringle, 2004). Sejak saat itu pariwisata Bali terus berkembang menjadi sumber pendapatan asli daerah terbesar kedua setelah pertanian. Perkembangan kepariwisataan berdampak besar pula pada komunitas masyarakat Bali, jika pada masa pemerintahan kolonial Belanda seperlima masyarakat Bali buta huruf, maka pada tahun 1990an sekitar 90% anak usia sekolah telah mengenyam pendidikan dasar formal (Pringle, 2004).

Sekalipun pariwisata di Bali mengalami “booming”, sampai dengan tahun 2000an ternyata tidak semua masyarakat di Bali menikmati dampak ekonomi dari pariwisata di Bali. Pengembangan kepariwistaan yang cenderung terkonsentrasi di bagian selatan Pulau Bali menyebabkan masyarakat di bagian utara Pulau Bali hanya sedikit yang menerima manfaat dari “booming” pariwisata Bali. Hingar bingar pariwisata Bali juga menarik investor serta kaum pencari kerja dari luar Bali. Berbagai kebijakan di bidang kepariwisataan tidak saja berhasil mengumpulkan uang tetapi juga dampak perubahan sosial di masyarakat terutama akibat penetrasi pekerja dari luar Bali di dalam komunitas masyarakat lokal, sehingga dalam beberapa kesempatan terjadi gesekan antara masyarakat lokal dengan kaum pendatang. Peristiwa bom Bali pada Oktober 2002 semakin menegaskan ketergantungan masyarakat lokal Bali pada sektor kepariwisataan. Secara kolektif masyarakat Bali menggambarkan diri mereka sebagai masyarakat pariwisata (tourism community ). Kesadaran secara kolektif ini menyebabkan masyarakat Bali sangat unik dibandingkan dengan masyarakat di destinasi pariwisata lainnya di Indonesia. Masyarakat Bali mampu mengintegrasikan berbagai aspek kehidupan sosial, budaya dan ekonomi dengan kepariwisataan hasilnya bisa dilihat bahwa masyarakat Bali sangat bergantung pada pariwisata (Mason, 2003).

Selain Bali, belum ada tempat lain di Indonesia yang masyarakat lokalnya memiliki kolektifitas yang kuat dalam memanfaatkan kepariwisataan sebagai roda perekonomian. Pada umumnya destinasi di Indonesia daya tarik berbasis komunitas dimulai pada lingkungan yang sangat kecil mulai dari keluarga atau klan dan bisa juga komunitas kecil di dalam sebuah lokasi yang memiliki suatu keunikan tertentu kemudian menarik wisatawan untuk datang. Sebut saja Kampung Naga di Garut, Situ Cangkuang atau kompleks makam-makam keluarga di Toraja. Namun kantong-kantong wisata seperti ini seperti kebanyakan daya tarik wisata berbasis komunitas di Indonesia tidak didukung oleh basis ekonomi yang masyarakat yang cukup kuat untuk tidak semata-mata bergantung pada uang yang dikeluarkan wisatawan, sehingga dalam jangka panjang komunitas masyarakat lokal dapat mengembangkan perekonomian yang berkelanjutan dengan memanfaatkan kepariwisataan sebagai investasi awal. Kawasan-kawasan perdesaan wisata di Toraja merupakan kawasan yang mendapatkan manfaat dari kepariwisataan yang sangat signifikan seperti jaringan jalan dan telekomunikasi (Adams, 2006). Namun dalam jangka panjang ternyata terjadi penurunan kunjungan wisatawan yang sangat signifikan ke Toraja sampai dengan tahun 2013 sekarang. Banyak ahli kepariwisataan berspekulasi tentang penyebab menurunnya jumlah kunjungan wisatawan ke Toraja, tetapi satu hal yang jelas tidak terlalu berdampak pada perekonomian masyarakat di Toraja, karena angkatan kerja di Toraja banyak yang melakukan migrasi ke Makassar untuk mencari kerja di sana setelah terjadi penurunan wisatawan ke Toraja (Adams, 2006). Berbeda dengan Bali yang terpukul cukup telak setelah peristiwa bom Bali pada tahun 2002. Apa yang terjadi di Bali menggambarkan kolektivitas masyarakat Bali yang tergantung secara ekonomi pada pariwisata. Masyarakat Bali secara bertahap telah membentuk apa yang disebut sebagai masyarakat wisata ( tourism community ).

Menciptakan sebuah masyarakat wisata, Rocharungsat (2008) menyebutkan hal yang sangat mendasar perlu dimiliki oleh komunitas adalah pemahaman sumber daya utama apa yang dapat ditawarkan oleh komunitas lokal terhadap wisatawan dan hal kedua yang penting adalah seberapa besar keterlibatan komunitas lokal dalam “industri” kepariwisataan. Kebanyakan destinasi wisata berbasis komunitas di Indonesia gagal dalam menawarkan sumber daya daya tarik wisata ( tourist attraction resources ), komunitas justru menjadi objek daya tarik wisata atau menjadi daya tarik wisata itu sendiri, dalam hal ini menjadi tidak jelas siapa mendapatkan manfaat ( benefit ) dari kepariwisataan. Seperti contoh di Kampung Naga Garut, ternyata yang mendapatkan manfaat dari hiruk pikuk kepariwisataan adalah agen perjalanan atau tour operator, demikian pula yang terjadi di Toraja. Masyarakat lokal sering gagal dalam memahami pengelolaan secara ekonomi komponen kepariwisataan (aksesibilitas, fasilitas/amenitas, dan aktivitas) sehingga komunitas lokal lebih memilih atau terpaksa menjadi “objek wisata” ketimbang mengelola berbagai komponen kepariwisataan lainnya sebagai sumber daya perekonomian. Dalam jangka panjang hal ini dapat menyebabkan ketergantungan komunitas lokal kepada wisatawan yang datang ke destinasi seperti yang terjadi di Bali sehingga ketika terjadi penurunan jumlah kunjungan wisatawan komunitas lokallah yang terpukul secara ekonomi.

' src=

' src=

  • Layanan Konsultasi
  • Masuk / Bergabung

contoh community based tourism adalah

Mengenal Konsep Community Based Tourism

contoh community based tourism adalah

Community Based Tourism (CBT), biasa juga disebut sebagai pariwisata berbasis masyarakat. Secara konseptual, prinsip dasar CBT adalah menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama melalui pemberdayaan masyarakat dalam berbagai kegiatan kepariwisataa. Sehingga, manfaat kepariwisataan sebesar-besarnya diperuntukkan bagi kesejahteraan masyarakat.

Konsep CBT digunakan oleh para perancang, pegiat pembangunan pariwisata, strategi untuk memobilisasi komunitas untuk berpartisipasi secara aktif dalam pembangunan pariwisata. Tujuan yang ingin diraih adalah pemberdayaan sosial ekonomi komunitas dan meletakkan nilai lebih dalam pariwisata, khususnya kepada para wisatawan.

Menurut Isnaini Mualissin (2007) Konsep Community Based Tourism memiliki beberapa prinsip-prinsip dasar yang dapat digunakan sebagai Tool Community Development bagi masyarakat lokal, yakni:

  • Mengakui, mendukung dan mempromosikan pariwisata yang dimiliki masyarakat
  • Melibatkan anggota masyarakat sejak awal dalam setiap aspek
  • Mempromosikan kebanggaan masyarakat
  • Meningkatkan kualitas hidup masyarakat
  • Memastikan kelestarian lingkungan dan sumber daya alam
  • Mempertahankan karakter dan budaya unik
  • Meningkatkan pembelajaran lintas budaya
  • Menghormati perbedaan-perbedaan kultural budaya dan martabat sebagai manusia
  • Membagikan manfaat keuntungan secara adil diantara anggota masyarakat
  • Memberikan kontribusi persentase pendapatan yang tetap terhadap proyek masyarakat

Selain itu, CBT akan melibatkan pula masyarakat dalam proses pembuatan keputusan dan dalam perolehan bagian pendapatan terbesar secara langsung dari kehadiran para wisatawan. Dengan demikian akan dapat menciptakan kesempatan kerja, mengurangi kemiskinan dan membawa dampak positif terhadap pelestarian lingkungan dan budaya asli desa. Dan pada akhirnya diharapkan akan mampu menumbuhkan jati diri dan rasa bangga dari penduduk setempat yang tumbuh akibat peningkatan kegiatan pariwisata.

Dapat dikatakan bahwa CBT merupakan konsep ekonomi kerakyatan yang riil, yang langsung dilaksanakan oleh masyarakat dan hasilnya langsung dinikmati oleh masyarakat. Konsep ini lebih mementingkan dampak pariwisata terhadap masyarakat dan sumber daya lingkungan. CBT muncul dari strategi pengembangan masyarakat, dengan menggunakan pariwisata sebagai alat untuk memperkuat kemampuan organisasi masyarakat pedesaan yang mengelola sumber daya pariwisata dengan partisipasi masyarakat setempat.

Meski muncul dari masyarakat, CBT tidak seutuhnya menjadi solusi yang sempurna untuk masalah masyarakat. Jika sembarangan diterapkan, CBT bisa menimbulkan masalah dan membawa bencana. Oleh karena itu, komunitas harus pandai-pandai dalam memilih dan berhati-hati. Selain itu, harus dipersiapkan semuanya secara memadai sebelum mengoperasikan CBT agar sesuai untuk pengembangan CBT. Yang lebih penting lagi, masyarakat harus memiliki kekuatan untuk memodifikasi atau menangguhkan CBT agar tidak melampaui kapasitas pengelolaan masyarakat atau membawa dampak negatif yang tidak terkendali.

' src=

Author: Very Yudha

Bagikan ini:.

contoh community based tourism adalah

ARTIKEL TERKAIT DARI PENULIS

contoh community based tourism adalah

Melihat Perilaku Berbagi pada Petani

contoh community based tourism adalah

Pentingnya Menyumbang di Acara Nikahan Desa

Kelompok Tani

Membangun Kekuatan Pertanian Melalui Kelompok Tani

You must log in to post a comment.

KATEGORI ARTIKEL

  • Infografis 9

ARTIKEL POPULER

contoh community based tourism adalah

Tugas dan Wewenang Pelaksana BUMDes yang Harus Dipahami

contoh community based tourism adalah

Participatory Rural Appraisal Dalam Praktik Desa Wisata

contoh community based tourism adalah

Aturan Pembentukan Pokdarwis

contoh community based tourism adalah

Pendekatan RRA (Rapid Rural Apprasial)

contoh community based tourism adalah

ARTIKEL PILIHAN

Bank sampah posyandu majusari, inovasi masyarakat desa bakalan malang, klasifikasi jenis usaha bumdes, desa surga yang terinpirasi dari lagu koes plus, 6 tips aman berlibur ke tempat wisata.

  • Tentang Kami
  • Kegiatan Utama
  • Ketentuan dan Sangkalan
  • Privacy Policy

Fakultas Ekonomi

  • Vision & Mision
  • Faculty Leaders
  • Economic development
  • Announcement

contoh community based tourism adalah

COM_CWTRAFFIC_MSG_MISSING

Mengenal Community Based Tourism (CBT)

  • " onclick="window.open(this.href,'win2','status=no,toolbar=no,scrollbars=yes,titlebar=no,menubar=no,resizable=yes,width=640,height=480,directories=no,location=no'); return false;" rel="nofollow"> Print

Gambar

Most Recent

  • Pemerintahan
  • Liputan Khusus
  • Ulas Pentas
  • Kritik Sastra
  • Kritik Seni

contoh community based tourism adalah

“Community-Based Tourism” Sebagai Salah Satu Upaya Pemulihan Pariwisata Bali

AA Ayu Arun Suwi Arianty

Salah satu sudut pantai Desa Pemuteran, Buleleng, Bali | Foto: Mursal Buyung

Wujud Community-Based Tourism  (CBT) di Bali

Tahun 2020 diawali dengan merebaknya pandemic Covid19. Industri pariwisata merupakan salah satu sektor yang mengalami penurunan sangat signifikan. UNWTO menggambarkan keadaan pariwisata internasional seperti kembali ke level pariwisata pada saat 30 tahun yang lalu. Penurunan secara drastis jumlah kunjungan wisatawan baik domestic maupun mancanegara menyebabkan melambatnya bahkan nyaris terhentinya kegiatan pariwisata. Selanjutnya, hal tersebut memberikan efek berganda ( multiplier effect ) terhadap sektor industri lainnya.

Pada KTT G20 tahun 2020, UNWTO berkerjasama dengan kelompok kerja pariwisata G20 mengeluarkan Framework for Inclusive Community Development Through Tourism sebagai upaya pemulihan sektor pariwisata. Kerangka ini mendorong kerjasama dan kolaborasi antara masyarakat dan pemangku kepentingan pariwisata guna menjadikan pariwisata sebagai alat pembangunan inklusif yang dapat secara adil mendistribusikan manfaat dari pariwisata itu sendiri di wilayahnya (UNWTO, 2020). Dimana sebelumnya UNWTO pada tanggal 16 September 2020, di Tbilisi, Georgia, mengeluarkan Deklarasi Tbilisi sebagai sebuah komitmen pemulihan pariwisata secara berkelanjutan (UNWTO, 2020).

Berdasarkan kedua peristiwa tersebut, dapat disimpulkan bahwa masyarakat bersama dengan terjalinnya kerjasama dan koordinasi merupakan kunci penting dalam usaha pemulihan pariwisata berkelanjutan pada masa pandemic maupun pasca pandemic Covid19 nanti.

Pengembangan pariwisata yang menekankan pada masyarakat sudah terlihat pada tahun 1990-an melalui konsep pro-poor tourism (pariwisata pro-orang miskin), rural tourism (pariwisata pedesaan), Community-Based Tourism (CBT), dan istilah lain yang dimaksudkan untuk membantu pembangunan bagi masyarakat tertinggal secara ekonomi (Putra, 2015).

Dalam buku pegangan yang diterbitkan REST (1997), dimuat hal-hal konseptual dan praktis dari CBT. Menurut REST, secara terminologis, pelibatan partisipasi masyarakat dalam proyek pengembangan pariwisata mempunyai banyak nama, yakni Community-Based Tourism (CBT), Community-Based Ecotourism (CBET), Agrotourism , dan Eco and Adventure Tourism . Dikalangan akademik, belum ada konsensus terhadap istilah-istilah dari beragam tipe pariwisata ini.

Glamping, Staycation, Instagrammable, Babymoon: Leksikon Baru Dalam Geliat Pariwisata Ekonomi Kreatif

Dalam perkembangannya konsep Community-Based Tourism (CBT) lebih mendapatkan perhatian dan sering digunakan oleh badan atau kelompok pemerintah karena diyakini dapat membantu masyarakat lokal untuk menggali pendapatan, melakukan diversifikasi ekonomi lokal, pelestarian budaya dan lingkungan, serta menyediakan peluang pendidikan (Putra, 2015). Community-Based Tourism (CBT) digunakan sebagai alat pengembangan pariwisata berkaitan erat dengan pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism) .

Kedua konsep ini menekankan pada manfaat pembangunan bagi masyarakat, khususnya manfaat ekonomi, sosial budaya, dan lingkungan (Richard dan Hall, 2000). Dalam kata lain, jika masyarakat secara langsung dapat menikmati manfaat dari pariwisata, mereka akan mendukung pembangunan pariwisata serta menjaga keberlanjutannya. Kegiatan pariwisata tidak akan dapat terjadi tanpa dukungan masyarakat sebagai salah satu aktor pariwisata itu sendiri.

Bali merupakan salah satu destinasi pariwisata internasional yang memiliki keistimewaan tersendiri dengan ciri khas yang dapat dilihat dari keunikan tatanan sosial, budaya, dan alamnya. Pengembangan pariwisata di Bali sebaiknya bisa lebih diintensifkan. Sentuhan ekonomi pada sektor pariwisata hendaknya dapat dirasakan secara merata oleh rakyat.  Pengembangan pariwisata yang paling sesuai dengan iklim globalisasi tanpa mengesampingkan potensi lokal, adalah pariwisata kerakyatan yang berhubungan dengan kearifan lokal ( local wisdom ) dan berkaitan dengan aspek kelestarian alam (ekowisata).

Dalam Rencana Strategis Kemenparekraf 2020-2014, wisata alam ditetapkan sebagai salah satu fokus dari produk wisata yang harus dikembangkan. Kabupaten Buleleng, sebagai salah satu kabupaten di Provinsi Bali yang memiliki garis pantai terpanjang di Bali memiliki potensi yang besar untuk mengembangkan produk wisata alam, khususnya wisata bahari.

Harapan atau Kecemasan? | Geliat Pariwisata di Wilayah Kaldera, Kintamani

Menurut UU No.10 Tahun 2009, tentang Kepariwisataan, wisata bahari atau wisata tirta adalah usaha penyelenggaraan wisata dan olah raga air, termasuk penyediaan sarana dan prasarana, serta jasa lainnya yang dikelola secara komersial di perairan laut, pantai, sungai, danau, dan waduk. Dimana ekowisata bahari merupakan jenis wisata minat khusus yang memiliki aktivitas di permukaan laut, di bawah laut, dan di pesisir pantai (Yulius, 2018).

Konsep kearifan lokal yang bisa dijadikan landasan pendukung Community-Based Tourism (CBT) atau pariwisata berbasis masyarakat di Bali adalah konsep “ Tri Hita Karana ”. “ Tri Hita Karana ” merupakan filosofi hidup masyarakat Bali yang berarti tiga penyebab kebahagiaan yang bersumber pada harmonisnya hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan sesamanya, dan hubungan manusia dengan lingkungannya. Prinsip pelaksanaan tersebut haruslah seimbang dan selaras, antara hubungan satu dengan lainnya  (Natalia, 2016). Konsep dari Community-Based Tourism  (CBT) yang menekankan pada dampak pariwisata pada masyarakat dan sumber daya lingkungan akan dapat diatasi jika “ Tri Hita Karana ” diterapkan dengan baik pada kehidupan sehari-hari.

Masyarakat sebagai Faktor Keberhasilan Pengembangan Ekowisata Bahari di Desa Pemuteran

Desa Pemuteran merupakan salah satu desa di Kabupaten Buleleng yang terletak diantara gugusan perbukitan dan hamparan laut. Letak geografis Desa Pemuteran menjadikan desa ini berpotensi sebagai destinasi ekowisata bahari. Salah satu potensi yang dimiliki oleh Desa Pemuteran sebagai destinasi ekowisata bahari adalah potensi berupa terumbu karang yang indah. Pengembangan terumbu karang melalui program konservasi yang dipadukan dengan aktifitas wisata mampu menarik minat wisatawan untuk datang berkunjung dan ikut serta dalam melakukan konservasi terumbu karang.

Keterlibatan masyarakat lokal sudah dimulai dari pembuatan program konservasi terumbu karang. Program konservasi terumbu karang di Desa Pemuteran diprakarsai oleh Yayasan Karang Lestari yang bekerjasama dengan masyarakat lokal Desa Pemuteran. Konservasi terumbu karang mulai dilakukan pada tahun 1990 oleh Yayasan Karang Lestari.

Recovery Pariwisata Pasca Pandemi: Belajar dari Kritik Pemulihan Pariwisata Pasca Bom Bali

Pada awal berdiri Yayasan Karang Lestari yang diketuai oleh I Gusti Agung Prana, menempatkan Bupati Buleleng sebagai pelindung, beberapa tokoh nasional sebagai dewan pembina, dan tokoh-tokoh lokal sebagai dewan pengawas. Pada saat itu pendekatan yang digunakan oleh Yayasan Karang Lestari untuk meyakinkan masyarakat lokal adalah pendekatan adat, budaya, dan keagamaan. Usaha pertama yang dilakukan sebagai upaya pengembangan destinasi ekowisata adalah usaha restorasi terumbu karang yang sebelumnya telah dirusak dan dihancurkan oleh masyarakat lokal itu sendiri.

Dulunya, mayoritas masyarakat Desa Pemuteran yang bermata pencaharian sebagai nelayan, menggunakan bom dan potassium sebagai sarana menangkap ikan (Putri dan Citra,2018). Usaha restorasi ini dirasakan sebagai usaha terberat karena disamping menumbuhkan terumbu karang yang telah hancur dan rusak, para pelopor penyelamat lingkungan ini harus mampu mentransformasikan budaya masyarakat, dari penghancur ekosistem menjadi penyelamat ekosistem (Suwena dan Ariamayanti,2016).

Kemajuan restorasi terumbu karang mulai terlihat pada tahun 1996. Hal ini ditandai dengan beragamnya jenis terumbu karang yang tumbuh di daerah tersebut. Pada tahun 2000an, teknologi biorock mulai diperkenalkan di Desa Pemuteran. Biorock merupakan sebuah teknologi penumbuhan terumbu karang, dimana teknologi biorock dapat mempercepat pertumbuhan terumbu karang tiga hingga enam kali lebih cepat daripada terumbu karang yang tumbuh alami. Disamping itu, biorock juga menghasilkan terumbu karang yang lebih tahan terhadap pengaruh cuaca dan kontaminasi berbagai polusi air (Arismayanti, 2016).

Setahun setelah dikembangkannya teknologi Biorock, atau pada tahun 2001, kawasan Teluk Pemuteran telah lahir kembali menjadi taman laut dengan terumbu karang yang beragam. Keindahan terumbu karang Desa Pemuteran dibuktikan dengan, diperolehnya penghargaan dari UNWTO sebagai daerah konservasi bawah laut yang menakjubkan pada tahun 2015. Diikuti dengan Pengukuhan Desa Pemuteran sebagai salah satu dari Top 10 Lonely Planet pada tahun 2016 .

Keberhasilan Desa Pemuteran untuk merestorasi terumbu karangnya, bahkan mendapatkan penghargaan tidak terlepas dari peran masyarakat. Keterlibatan masyarakat terlihat pada saat perencanaan, pelaksanaan, dan usaha konservasi terumbu karang di Desa Pemuteran. Keberhasilan tersebut juga didukung dengan adanya keterlibatan dari semua pemangku kepentingan, regulasi, dan tata kelola yang baik dalam pengembangan ekowisata di Desa Pemuteran.

Menteri Pariwisata Ini Jalan-jalan di Desa, Sapa Petani dan Pelukis, Meski Tak Berkantor di Bali

Pulihnya ekosistem terumbu karang, membawa efek positif pada perkembangan pariwisata di Desa Pemuteran. Hal ini ditandai dengan meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan ke Desa Pemuteran. Secara umum, wisatawan yang datang adalah wisatawan dengan minat khusus, yaitu menikmati wisata bahari dengan aktifitas wisata berupa snorkling dan diving .

Dengan meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan menyebabkan meningkatnya pula jumlah permintaan akan fasilitas wisata. Fenomena ini menyebabkan munculnya efek berganda pada kehidupan masyarakat Desa Pemuteran. Keterlibatan masyarakat sebagai penyedia fasilitas wisata, seperti jasa penginapan sederhana ( homestay ), warung makan, menjadi instruktur selam bagi penyelam amatir, membuka penyewaan alat selam, penyewaan perahu, dan menjadi pemandu wisata lokal. Peran masyarakat sebagai penyedia fasilitas wisata ini berdampak pada peningkatan kualitas hidup mereka.

Harapan Desa Pemuteran sebagai Ekowisata Bahari Pada Masa Pandemi dan Pasca Pandemi Covid19

Di Indonesia, Kemenparekraf (Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif) berkolaborasi dengan para pihak industry, pelaku, pemerintah, dan akademisi menyusun protocol kesehatan lengkap dengan pedoman dan panduan pelaksanaan CHSE ( Clean, Health, Safety, and Environment ) sebagai upaya dalam menghadapi pandemi Covid19. Tujuan dari sertifikasi CHSE adalah untuk meningkatkan upaya pencegahan dan pengendalian COVID19. Dukungan pemerintah tidak hanya sampai dikeluarkannya pedoman sertifikasi CHSE tersebut, akan tetapi pemerintah juga memberikan sertifikasi ini secara gratis. Tentunya, pemberian sertifikasi CHSE gratis ini hanya diberikan bagi pelaku usaha yang memenuhi segala persyaratan dan ketentuannya.

Disamping sertifikasi CHSE, dukungan pemerintah untuk masyarakat yang terkena dampak langsung dari Covid19, khususnya yang berhubungan dengan wisata bahari, dilakukan melalui Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) Padat Karya melalui Taman Terumbu Karang Indonesia (ICRG). Program ini dicetuskan oleh Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi bersama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan. Kabupaten Buleleng terpilih sebagai salah satu daerah yang menjadi tempat restorasi terumbu karang nasional atau Taman Terumbu Karang Indonesia (ICRG).

Pariwisata Nusa Penida, Menunggu Bangkit dari Korona dan Sihir Konor

Pemilihan Kabupaten Buleleng tidak lepas karena sudah terkenalnya konservasi terumbu karang Buleleng. Dimana pada program ini, Buleleng akan menerima bantuan sebesar 10-20 miliar guna mengembangkan terumbu karang yang berbeda, yang unik, sekaligus menjaga kelestarian terumbu karang tersebut. Sejalan dengan itu, Bapak Bupati Buleleng juga menyampaikan permohonan terkait ijin zona hijau bagi tiga kawasan di Buleleng secara virtual kepada Presiden Jokowi saat pelaksanaan vaksinasi masal di Gedung Kesenian Gde Manik Singaraja. Ketiga kawasan tersebut adalah Desa Pemuteran, Desa Gerokgak, dan Desa Kalibukbuk. Harapan dari Bapak Bupati Agus Suradnyana jika permohonannya dikabulkan adalah Buleleng dapat bersiap menerima kunjungan wisata.

Adanya dukungan dari pemerintah tersebut layaknya dijadikan modal oleh masyarakat Desa Pemuteran untuk keluar dari masa paceklik pariwisata. Disamping itu, masa pandemi Covid19 diharapkan sebagai momentum refleksi diri. Dengan demikian, mampu melahirkan pemikiran jernih guna merancang pengembangan ekowisata di Desa Pemuteran kedepannya dan berfikir kritis untuk menemukan potensi-potensi lain yang dapat di kembangkan di Desa Pemuteran.

Konsep Community-Based Tourism (CBT) yang sebelumnya telah berhasil membawa perkembangan pariwisata yang sangat menggembirakan di Desa Pemuteran haruslah dipikirkan kembali pelaksanaannya di masa pandemi Covid19 dan pasca pandemi Covid19. Untuk ke depannya tidaklah cukup hanya menerapkan konsep Community-Based Tourism (CBT) tetap bertahan sebagai destinasi ekowisata yang diminati oleh wisatawan,

Pengembangan ekowisata bahari Desa Pemuteran juga harus memperhatikan aspek-aspek yang diperlukan untuk menangani masalah pandemi Covid19. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk pengembangan ekowisata bahari di Desa Pemuteran dalam masa adaptasi kenormalan baru adalah dengan mengikuti pedoman dan melakukan sertfikasi CHSE. Diharapkan pula, masyarakat Desa Pemuteran dapat lebih berinovasi dalam era digital ini dalam mengemas atraksi wisata di Desa Pemuteran.

DAFTAR PUSTAKA

  • Putra, I Nyoman Darm. 2015. Pariwisata Berbasis Masyarakat Model Bali (1 st ed). Denpasar: Program Studi Magister Kajian Pariwisata Universitas Udayana.
  • Natalia, O. 2016. Tri Hita Karana. Diakses pada 16 Oktober 2021, dari
  • https://www.scribd.com/document/325905645/Tri-Hita-Karana-pdf
  • Putri, Trisna. & Citra, Ananda. 2018. Strategi Pengelolaan Sumberdaya Pesisir di Desa Pemuteran, Kecamatan Kerokgak Kabupaten Buleleng . Jurnal Pendidikan Geografi Undiksha , Volume 6 (1), 12-21.
  • Richards, Greg. dan Derek Hall. 2000. Tourism and Sustainable Community Development . London: Routledge.
  • Suwena, I Ketut. dan Arismayanti, Ni Ketut. 2016. Pengembangan Pariwisata Hijau sebagai Pemberdayaan Masyarakat di Desa Pemuteran Kabupaten Buleleng Bali . Seminar Nasional Sains dan Teknologi (Senastek).
  • UNWTO. (2020). Tbilisi Declaration: Actions for A Sustainable Recovery Of Tourism . Tbilisi: UNWTO.
  • UNWTO. (2020). Alula Framework for Inclusive Community Development Through Tourism. Riyadh: UNWTO.
  • Yulius, dkk. (2018). Buku Panduan Kriteris Penetapan Zona Ekowisata Bahari (edisi 1). Bogor: PT Penerbit IPB Press.

Peraturan Pentas Adalah Tantangan | Catatan Sutradara Teater Rai Srimben SMPN 4 Singaraja

Program “food forest design” untuk membangun ketahanan pangan indonesia | buka tautan untuk mendaftar, aa ayu arun suwi arianty.

A.A.Ayu Arun Suwi Arianty, SST.Par.,M.Par. Dosen. Tinggal di Denpasar. Telah menulis berbagai artikel ilmiah berkaitan dengan pariwisata

Program “Food Forest Design” Untuk Membangun Ketahanan Pangan Indonesia | Buka Tautan Untuk Mendaftar

ADVERTISEMENT

contoh community based tourism adalah

Inilah 22 Novel dan Buku Cerpen Bahasa Bali Terpilih untuk Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia

“kembalikan indonesia padaku”, puisi wajib lomba menyanyikan puisi, jembrana, 2017, berpikir serius tentang “gamelan bukan musik” di antara hujan dan mie instan, temui aku pada hangat senja di tepi pantai ini | cerpen satria aditya, gamelan (bukan) musik, kritik & opini.

  • Kritik & Opini

Menerobos Badai: Persembahan kepada Sejarawan Populis Bali, Sugianto Sastrodiwiryo (Bagian I)

Menerobos Badai: Persembahan kepada Sejarawan Populis Bali, Sugianto Sastrodiwiryo (Bagian I)

SAYA agak terkejut membaca artikel Tatkala.co tertanggal 18 Desember 2023 berjudul “Soegianto Sastrodiwiryo, Dokter yang Sejarawan Itu Berpulang”. Terkejut karena...

Menunggu Karisma Pariwisata dari KEN 2024

Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENTERI Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno meluncurkan 110 event berkualitas yang terangkum dalam Karisma Event Nusantara (KEN) pada...

77 Tahun HMI: Membaca Kembali Pemikiran Lafran Pane

77 Tahun HMI: Membaca Kembali Pemikiran Lafran Pane

SYAHDAN, seorang alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Singaraja yang saya hormati, Suwardi Rasyid, suatu kali menciptakan lagu indah sekaligus...

contoh community based tourism adalah

Lomba Muspus Bulan Bahasa Bali VI: Dari Pendatang Baru, sampai Model Garapan Baru

Alih Fungsi Sawah Tidak Terkendali: Subak Hilang, Wisatawan Tidak akan Datang

Alih Fungsi Sawah Tidak Terkendali: Subak Hilang, Wisatawan Tidak akan Datang

Kolektif, Gairah, dan Antuasiasme Bingar Showcase! #Vol2 di Uncle Ben’s 23

Kolektif, Gairah, dan Antuasiasme Bingar Showcase! #Vol2 di Uncle Ben’s 23

Uncle Ben’s 23: Ruang Baru Untuk Hiburan dan Komunitas di Badung, Bali

Uncle Ben’s 23: Ruang Baru Untuk Hiburan dan Komunitas di Badung, Bali

Ada Satpol PP Pariwisata di Bali Utara, Apa Saja Tugasnya?

Ada Satpol PP Pariwisata di Bali Utara, Apa Saja Tugasnya?

Buku Cerpen Berbahasa Bali “Ada…” Karya Komang Adnyana Dibedah Santai dan Serius di STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Buku Cerpen Berbahasa Bali “Ada…” Karya Komang Adnyana Dibedah Santai dan Serius di STAHN Mpu Kuturan Singaraja

ADALAH peristiwa pendidikan dan kebudayaan yang cukup menggembirakan ketika melihat dosen dan mahasiswa Program Pendidikan Sastra Agama dan Bahasa Bali...

Minikino Presentasikan Sinema Inklusif di Festival Film Pendek Internasional Clermont-Ferrand

Minikino Presentasikan Sinema Inklusif di Festival Film Pendek Internasional Clermont-Ferrand

FRANSISKA Prihadi, Direktur Program Minikino, dan Saffira Nusa Dewi, Junior Programmer dan Audio Description Koordinator, mewakili Minikino di ajang bergengsi...

Bagaimana Dina Widiawan Membangun Din’z Handmade

Bagaimana Dina Widiawan Membangun Din’z Handmade

DI TERAS rumah yang sekaligus ruang kerjanya, terdapat sebuah mesin jahit berwarna putih, lemari cukup besar, sebuah sofa tua tanpa...

Puisi-puisi Anggi Farhans | Aku Adalah Tuan Rumah

Puisi-puisi Anggi Farhans | Aku Adalah Tuan Rumah

Aku Ingin Dia Berubah | Cerpen Depri Ajopan

Aku Ingin Dia Berubah | Cerpen Depri Ajopan

Tukang Sulap dan Bocah Pemain Biola | Cerpen Hasan Aspahani

Tukang Sulap dan Bocah Pemain Biola | Cerpen Hasan Aspahani

Puisi-puisi Chris Triwarseno | Tidak Ada Keretek di Antara Kita

Puisi-puisi Chris Triwarseno | Tidak Ada Keretek di Antara Kita

Maksan dan Moncong Senapan Belanda | Cerpen Helmy Khan

Maksan dan Moncong Senapan Belanda | Cerpen Helmy Khan

Liputan khusus.

Merayakan Ciptaan Merdana Bersama Gadis-gadis Penabuh Belia Desa Kedis

Gong Kebyar Desa Kedis, Setelah 32 Tahun Mati Suri

GENDER wayang lamat-lamat terdengar. Merdunya menyelinap di sela-sela cerita panjang riwayat gong kebyar Desa Kedis. “Itu cucu saya yang memainkan....

Melihat Wajah Desa Baktiseraga di Tangan Ajik Armada

Melihat Wajah Desa Baktiseraga di Tangan Ajik Armada

SECARA teoritis, kemandirian desa dipengaruhi oleh tiga aspek dasar: 1) kapasitas sosial (sumber daya yang dimiliki masyarakat); 2) kapasitas politik...

Membaca Ekosistem Pertunjukan Wayang Kulit di Buleleng

Membaca Ekosistem Pertunjukan Wayang Kulit di Buleleng

DI TENGAH udara sore yang gerah, lelaki dengan rambut digelung itu memasuki pekarangan rumahnya yang asri penuh tumbuhan. Motor tua...

ENGLISH COLUMN

Darwin x Bali Neighborhood: Cultural Exchange

Darwin x Bali Neighborhood: Cultural Exchange

Embracing Sonic Dissonance: The Power of Narrative Inquiry

Embracing Sonic Dissonance: The Power of Narrative Inquiry

“Ruwatan Samudera”, Procession Visualization in a Dance Fragments

“Ruwatan Samudera”, Procession Visualization in a Dance Fragments

A Letter to World Leaders

A Letter to World Leaders

A Tale of An Ordinary Man

A Tale of An Ordinary Man

contoh community based tourism adalah

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, 1win budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi

Copyright © 2016-2022, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Remember Me

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Kompasiana Logo

  • Cerita Pemilih
  • Entrepreneur
  • Artificial intelligence
  • Cryptocurrency
  • Ruang Kelas
  • Ilmu Alam & Tekno
  • Ilmu Sosbud
  • Travel Story
  • SEMUA RUBRIK
  • TOPIK PILIHAN
  • INFINITE HOT
  • LESTARI NEW
  • Perpanjang Masa Jabatan dan Audit Kinerja Kadesnya
  • Tuntuntan Kepala Desa tentang Masa Jabatan
  • Menimbang Urgensi Perpanjangan Masa Jabatan Kades
  • Dilema Pemberian Bansos
  • Musuhan Gara-gara Pilpres? Rugi Dong!
  • Jasa Agen untuk Kuliah di Jerman

13 tahun Kompasiana

Buku, Pembangkit Jiwa

Lakukan Restorasi di Kawasan Hutan Desa Rantau Panjang sebagai Upaya Mengembalikan Fungsi Ekologi Gambut

Lakukan Restorasi di Kawasan Hutan Desa Rantau Panjang sebagai Upaya Mengembalikan Fungsi Ekologi Gambut

Mengeksplorasi Potensi Pariwisata di Soe sebagai Upaya Pengembangan Destinasi Wisata Bahari

Mengeksplorasi Potensi Pariwisata di Soe sebagai Upaya Pengembangan Destinasi Wisata Bahari

Pariwisata Berbasis Masyarakat, Upaya Melestarikan Kearifan Lokal Berkelanjutan di Desa Wisata Saba Baduy

Pariwisata Berbasis Masyarakat, Upaya Melestarikan Kearifan Lokal Berkelanjutan di Desa Wisata Saba Baduy

Menjelajahi Pesona Desa Penglipuran di Bali sebagai Destinasi Wisata Berbasis Masyarakat

Menjelajahi Pesona Desa Penglipuran di Bali sebagai Destinasi Wisata Berbasis Masyarakat

Menelisik Posyandu sebagai Sarana Upaya Penurunan Stunting

Menelisik Posyandu sebagai Sarana Upaya Penurunan Stunting

Ratna DaraWati

Mahasiswa KKN

Selanjutnya

Pengaplikasian Konsep Community Based Tourism sebagai Upaya Pembangkit UMKM Desa Wisata Tamanmartani

Dok. Pribadi

 Pengaplikasian Konsep Community Based 

Konsep CBT ketika diusung dapat menjadi sangat sederhana dan mendasar jika dikaitkan dengan masyarakat, perilaku, ekonomi, dan keterkaitan serta sinergi antar kelompok. Konsep ini kemudian dikatakan efektif ketika dapat memberikan peningkatkan nilai tambah, masyarakat sendiri sudah sejak lama memiliki kehidupan, kebiasaan, budaya, kultur, dan aktivitas baik dalam bentuk usaha UMKM ataupun hal yang lainnya. 

Hal tersebutlah yang kemudian berusaha diberikan nilai tambah yaitu dalam konteks wisata, seperti di Desa Tamanmartani. Masyarakat disana tinggal berdekatan dengan Candi Prambanan, disisi lain masyarakat mempunyai kebiasaan bertanam, bertani, ada juga potensi sungai, sehingga membuat penggerak UMKM mengolah apa yang telah ada dan lari kearah bagaimanakah mendesain sebuah program dengan beragam nilai tambah yang telah ada itu. 

Nilai tambah disini maksudnya ketika program itu dibiarkan kegiatan masyarakatnya tidak terganggu karena telah didesain sewajar mungkin seperti kehidupan masyarakat sehari-hari. Di desa Tamanmartani sendiri masyarakat diberikan pemahaman bagaimana posisinya ketika sebuah produk diberi konsep desain pertambahan nilai, contoh nyatanya ialah semisal sebuah produk UMKM seharganya Rp20.000,00. yang ketika kemudian dimasukkan ke dalam konteks program yang dibalut dengan wisata maka harga jual produk masyarakat itu bisa naik karena telah menjadi level oleh-oleh tempat wisata, sehingga saat wisatanya bubar nilai produknya tetap menjadi seperti ini masih tetap bisa berjalan karena konsepnya nilai tambah tidak merubah habit masyarakat, ada atau tidaknya wisata masyarakat tidak kehilangan mata pencaharian.

 Konsep desa wisata yang padat modal kemudian membangun destinasi selfie misalnya, bisa dikatakan tidak memperhatikan UMKM yang ada disitu. Ketika ada pandemi seperti ini perlu dikaji ulang, karena pada dasarnya saat berbicara mengenai wisata dan perekonomian masyarakat saat tidak ada sentuhan tetapi ekonomi masyarakat mampu bertahan hal tersebut sudah bagus. Tetapi disini harapan yang ditumbuhkan yakni ketika diberi sentuhan dapat meningkatkan perekonomian. 

Nilai tambah diukur efektif ketika dari nilai ekonomis, kerukunan masyarakat, dan keutuhan pertahanan nilai masyarakat dapat seimbang. Bisa jadi nilai ekonomisnya tidak meningkat tapi kerukunan antar masyarakatnya bisa meningkat, ukuran sederhana itulah sudah bisa menjadi tolak ukur keefektifitasan tersebut. Yang perlu disiapkan untuk membangun masyarakat agar terus tumbuh, tidak kehilangan jati diri tetapi mendapatkan nilai tambah baik itu secara kultural, budaya, guyub rukun, dan ekonominya yakni sangat sederhana, yang paling penting masyarakat paham betul akan potensi yang dimiliki serta kekurangan apa yang perlu dilengkapi.

 Dari konteks itu barulah perlu disiapkan jaringan atau bersinergi dengan tempat lain yang memang punya sistem sama, yaitu dalam bidang wisata pemberdayaan. Alternatif ini diambil karena dapat menginisiasi dan membangun ide ide untuk mendesain sebuah program, serta mengkolaborasikannya ke masyarakat. Disini tidak mengandalkan investor besar karena bisa saja mendapat suntikan dana besar, namun disisi lain akan timbul resiko-resiko diantaranya adalah kemungkinan besar uang akan dikuasai, perubahan sistem hingga penerapan regulasi yang sangat rumit.

 Permasalahan dari penerapan konsep CBT ini adalah bagaimana menumbuhkan kesadaran masyarakat terhadap potensi yang ada karena membutuhkan waktu yang cukup lama, hal yang sangat ditekankan disini adalah dengan tidak merubah habit masyarakat. Kita dapat menganalogikan secara sederhana ketika seorang petani diharuskan menjadi penjaga retribusi maka banyak hal yang berubah, dari sisi kebiasaan hidup, regulasi, pola pikir, bahkan kekuatan otot. 

Sebut saja ketika dalam keadaan pandemi seperti ini, banyak tempat wisata yang tutup, kemudian ketika seorang penjaga retribusi tersebut ingin kembali ke kebiasaannya bertani maka energinya sudah tidak cukup, fisiknya sudah tidak kuat. Pola pikir logis inilah yang mendasari pemikiran untuk tidak merubah habit masyarakat, melainkan menambah nilai lain yang dikaitkan pada pola dasar kehidupan.

 Permasalahan yang muncul tentu karena adanya perbedaan pola pikir, dan pasti tidak semua orang mendukung pola yang akan diaplikasikan. Hal tersebut kemudian dapat diatasi dengan mencari orang-orang yang berkepentingan, lalu membuat file project dan dipresentasikan, katakanlah dari keseluruhan masyarakat ada sejumlah 25% masyarakat yang mendapatkan nilai tambah dan dampak atau mendapatkan efek dari pola-pola yang tersaji maka akan memudahkan proses inisiasi desa wisata. 

Selain itu, pola-pola pendekatannya adalah dengan pendekatan yang memberikan contoh dampak dan menghadirkan keuntungan bagi masyarakat. Sebut saja sebagai langkah awal para penginisiasi desa wisata menghadirkan wisatawan langsung ke desa wisata yang ada, dari sanalah masyarakat akan menerima imbas langsung terutama dari segi perekonomian, mulai dari situlah kemudian masyarakat sadar akan potensi yang dimiliki desanya. Begitulah kiranya kiat-kiat para penginisiasi wisata desa Tamanmartani dalam mempersatukan perbedaan pola pikir dan memberi pemahaman akan potensi desa kepada masyarakat.

contoh community based tourism adalah

tugas di kompasiana

Uinwalisongo, pengabdianmasyarakat, artikelopini, ilmusosbudagama, ilmu sosbud agama, ruang kelas, artikel lainnya.

contoh community based tourism adalah

LAPORKAN KONTEN

Asosiasi Desa Wisata Indonesia

Konsep Community Based Tourism (CBT) untuk Pariwisata

'  data-srcset=

Berbicara mengenai pariwisata tidak terlepas dari Sumber Daya Alam maupun Buatan, dan Sumber Daya Manusia yang berperan sebagai aktor sekaligus subjek atraksi wisata. Pariwisata pada dasarnya menginginkan ketertarikan wisatawan meningkat, hal ini menjadi lumrah bagi masyarakat sekitar tempat wisata, dengan tujuan untuk berlibur, bisnis, maupun tujuan edukasi.

contoh community based tourism adalah

Recommendation for You

contoh community based tourism adalah

Views : 1,883 Ketua Umum Asosiasi Desa Wisata Indonesia, Andi Yuwono memberikan pembekalan pengelola desa…

contoh community based tourism adalah

Views : 1,883 PRAKTEK NAVIGASI DIGITAL DI GUNUNG PESAGI VIA BAHWAY  Gunung Pesagi adalah gunung tak…

contoh community based tourism adalah

Views : 1,883 Kampung Kopi Rigis Jaya menjadi tujuan pertama kami dalam rangkaian program “Sekolah…

contoh community based tourism adalah

Views : 1,883 Minggu, 21 Agustus 2022 Tim Asidewi Java-Sumatera Overland 2022 Tahap 2 bersama…

contoh community based tourism adalah

Views : 1,883 Rumah masa kecil Presiden Soekarno (Istana Gebang) di kelurahan Bendo Gerit, Kecamatan…

contoh community based tourism adalah

Views : 1,883 Desa Lubuk Resam berada di kawasan Hutan Produksi Terbatas (HPT) Bukit Badas,…

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment.

  • Konsultasi Disertasi
  • Pembuatan Tesis
  • Pembuatan Skripsi

logo

Teori Lengkap tentang Implementasi Community Based Tourism menurut Teori dan Pendapat Ahli dan Contoh Tesis tentang Implementasi Community Based Tourism

Home → Contoh Tesis 2020 → Teori Lengkap tentang Implementasi Community Based Tourism menurut Teori dan Pendapat Ahli dan Contoh Tesis tentang Implementasi Community Based Tourism

Gambaran dari Implementasi Community Based Tourism

Definisi implementasi community based tourism.

contoh community based tourism adalah

Community based tourism merupakan sebuah pembangunan berkelanjutan dengan merangkul komunitas sebagai pelaku utama melalui pemberdayaan masyarakat dalam berbagai kegiatan kepariwisataan.

Faktor-faktor Keberhasilan Implementasi Community Based Tourism (CBT)

Faktor – faktor keberhasilan tersebut adalah

  • Tokoh penggerak

Tokoh penggerak ini memiliki peran yang sangat besar dalam menggerakan desa non wisata menjadi desa wisata melalui komunitas pariwisata seperti contohnya adalah pokdarwis.

  • Pelibatan masyarakat sebagai pelaku utama

Keterlibatan masyarakat luas sebagai pelaku utama terlihat didalam embrio. Embrio merupakan aktivitas masyarakat dalam keseharian mereka yang dapat dikembangkan menjadi daya tarik wisata. Didalam embrio ini yang berperan adalah sekelompok masyarakat yang memiliki keahlian atau ketertarikan yang sama dibidang embrio tersebut. Mereka merencanakan, mengelola dan memperkerjakan diri mereka sendiri didalam embrio tersebut di kegiatan pariwisata.

  • Keunikan lokasi terutama dari adat dan istiadat budaya

Keunikan lokasi ini merupakan elemen utama untuk memicu adanya kegiatan pariwisata di Desa Wisata.Keunikan lokasi ini harus diciptakan oleh masyarakat tersebut untuk dapat mendatangkan wisatawan ke dalam desa wisata mereka.Keunikan lokasi yang berangkat dari budaya dan adat istiadat ini dianggap lebih memiliki nilai jual pariwisata yang cukup tinggi dan berdaya saing. Selain itu budaya dan adat istiadat setiap desa wisata ini akan saling berbeda sehingga meninggalkan suatu kenangan yang berbeda bagi para wisatawan yang tidak dapat dijumpai di desa wisata lain. Keunikan lokasi ini harus diciptakan oleh masyarakat desa sendiri untuk dapat menjadi desa wisata.Keunikan lokasi ini dapat berupa event – event wisata, paket – paket wisata dan keunikan yang dijual langsung di desa wisata.

  • Fasilitasi dana berdasarkan embrio aktivitas masyarakat yang ada.

Fasilitasi dana PNPM Mandiri pariwisata ini merupakan pemberian dana untuk memenuhi kebutuhan para pelaku wisata. Dimana pelaku wisata yang merumuskan realisasi dana ini. Embrio aktivitas adalah aktivitas masyarakat yang sudah ada dan dapat digunakan sebagai daya tarik wisata. Sehingga dengan pemberian dana kepada embrio aktivitas dan pelaku wisata dalam realisasinya dapat lebih menyentuh langsung kepada para pelaku wisata. Sehingga mereka dapat ikut memajukan desa wisata menjadi lebih berkembang dan layak jual. Selain itu mereka juga pecaya diri untuk mencoba lapangan pekerjaan baru di forum pariwisata.

Memiliki link untuk stakeholder penting seperti pemerintah agar bantuan seperti pembinaan, pelatihan dan dana stimulan dapat masuk untuk pengembangan desa wisata.

Teori-teori dari gambar Community Based Tourism

  • Community – Bassed Tourism (CBT)

Dalam buku pegangan yang diterbitkan REST (1997), dimuat hal-hal konseptual dan praktis dari CBT, Menurut REST, secara terminologis, pelibatan partisipasi masyarakat dalam proyek pengembangan pariwisata mempunyai banyak nama, yakni Community-Based Tourism (CBT), Community-Based Ecotourism (CBET), Agrotourism, Eco and Adventure Tourism dan homestay. Dikalangan akademik, belum ada konsensus terhadap istilah-istilah dari beragam tipe pariwisata ini.

Adapun definisi CBT adalah pariwisata yang menyadari kelangsungan budaya, sosial, dan lingkungan. Bentuk pariwisata ini dikelola dan dimiliki oleh masyarakat untuk masyarakat, guna membantu para wisatawan untuk meningkatkan kesadaran mereka dan belajar tentang masyarakat dan tata cara hidup masyarakat lokal (local way of life). Dengan demikan, CBT sangat berbeda dengan pariwisata massa (mass tourism). CBT merupakan model pengembangan pariwisata yang berasumsi bahwa pariwisata harus berangkat dari kesadaran nilai-nilai kebutuhan masyarakat sebagai upaya membangun pariwisata yang lebih bermanfaat bagi kebutuhan, inisiatif dan peluang masyarakat lokal (Pinel: 277) CBT bukanlah bisnis wisata yang bertujuan untuk memaksimalkan profil bagi para investor. CBT lebih terkait dengan dampak pariwisata bagi masyarakat dan sumber daya lingkungan (environmental resources). CBT lahir dari strategi pengembangan masyarakat dengan menggunakan pariwisata sebagai alat untuk memperkuat kemampuan organisasi masyarakat rural/lokal.

Dalam khasanah ilmu kepariwisataan, strategi tersebut dikenal dengan istilah community based tourism (CBT) atau pariwisata berbasis masyarakat. Konstruksi CBT ini pada prinsipnya merupakan salah satu gagasan yang penting dan kritis dalam perkembangan teori pembangunan kepariwisataan konvensional (growth oriented model) yang seringkali mendapatkan banyak kritik telah mengabaikan hak dan meminggirkan masyarakat lokal dari kegiatan kepariwisataan di suatu destinasi. Kritik tersebut muncul karena di tingkat global, aktivitas wisata secara massif yang berjalan selama ini dipercaya memunculkan dampak negatif, ditandai dengan berlangsungnya penurunan kualitas lingkungan yang sering dijamah wisatawan.

  • Model Pengembangan CBT

Buku, riset, dan survey tentang pelibatan masyarakat dalam pariwisata atau community-bassed tourism telah banyak dilakukan. Ketertarikan terhadap partisipasi masyarakat dalam dunia pariwisata tampaknya berakar di Amerika awal 1970-an. Gunn (1972: 66) mengkampanyekan penggunaan forum bersama yang dihadiri oleh pemimpin masyarakat, konstituen, perancanag pariwisata yang diharapkan. Gunn berpendapat bahwa keuntungan dari community approach yang diadvokasikannya dapat bermanfaat bagi penduduk dan para pengunjung.

Kemudian yang pertama kali mempopulerkan konsep pengembangan pariwisata berbasis masyarakat adalah Murphy (1985). Dia berpendapat, bahwa produk pariwisata secara lokal diartikulasikan dan dikonsumsi, produk wisata dan konsumennya harus visible bagi penduduk lokal yang seringkali sangat sadar terhadap dampak turisme. Untuk itu, pariwisata harus melibatkan masyarakat lokal, sebagai bagian dari produk turisme, lalu kalangan industri juga harus melibatkan masyarakat lokal dalam pengambilan keputusan. Sebab, masyarakat lokal lah yang harus menanggung dampak kumulatif dari perkembangan wisata dan mereka butuh untuk memiliki input yang lebih besar, bagaimana masyarakat dikemas dan dijual sebagai produk pariwisata. (Murphy, 1985: 16)

Contoh Tesis Community Based Tourism

Contoh Tesis 1 : Community Based Tourism Tantangan Dusun Nglepen Dalam Pengembangan Desa Wisata (Tinjauan Berdasarkan Teori Partisipasi Masyarakat)

Masyarakat Dusun Nglepen pada awalnya adalah masyarakat pedesaan yang mayoritas menggantungkan mata pencaharian sebagai petani. Setelah bencana gempa bumi 5,9 skala richter yang menimbulkan kerusakan parah pada Sabtu 27 Mei 2006, Dusun Nglepen direlokasi ke wilayah lain, dibangun dengan bangunan rumah tahan gempa berbentuk kubah (dome). Keunikan desain rumah dome justru menjadi daya tarik desa wisata yang sangat diminati. Disisi lain, peralihan sosio-kultural masyarakat Dusun Nglepen menjadi masyarakat pariwisata sangat menarik untuk diamati. Artikel ini menyajikan gambaran tantangan dalam pengembangan Community Based Tourism Dusun Nglepen yang dikaji berdasarkan teori partisipasi masyarakat melalui analisis diskriptif kualitatif. Hasil menunjukan bahwa semakin tinggi partisipasi warga, maka semakin tinggi dampaknya tehadap masyarakat. Dampak yang ditemukan cenderung bernilai posistif bagi masyarkat baik secara ekonomi maupun sosial budaya. Selanjutnya dampak positif yang dirasakan masyarakat cenderung mempengaruhi tingkat partisipasi dalam pengembangan pariwisata.

Contoh Tesis 2 : PENGELOLAAN PARIWISATA BERBASIS MASYARAKAT ( COMMUNITY BASED TOURISM ) DI DESA WISATA KEBONAGUNG KECAMATAN IMOGIRI

Hasil penelitian menunjukkan bahwa:(1) Pengelolaan pariwisata di Desa Kebonagung dilakukan secara langsung oleh masyarakat lokal melalui POKDARWIS. Desa Wisata Kebonagung telah memberikan kontribusi terhadap peningkatan konservasi sumber daya alam dan budaya, dan kontribusi terhadap peningkatan ekonomi, melalui produk wisata yang berorientasi pada budaya lokal. (2) Pada tahap pembentukan Desa Wisata Kebonagung masyarakat kurang dilibatkan, tingkat partisipasi yang tergambar adalah Paradigma Penghargaan Semu (Degrees of Tokenism), (3) Pada tahap pelaksanaan program desa wisata, secara kuantitas jumlah masyarakat yang berperan aktif dalam pengelolaan desa wisata masih sedikit, tetapi jika dilihat dimensi partisipasinya, pada tahap pelaksanaan tingkat partisipasi yang tergambar adalah tingkat kekuatan masyarakat (citizen power),karena masyarakat sendiri yang mengelola dan memutuskan bagaimana kegiatan wisata dijalankan. (4) Pada tahap evaluasi bentuk partisipasi masyarakat berupa sumbangan kritik dan saran, tingkat partisipasi yang tergambar adalah tingkat degree of tokenism. (5) Sikap pro masyarakat ditunjukkan dengan ikut menjaga kebersihan lingkungan, terlibat dalam keanggotaan POKDARWIS serta terlibat dalam pengelolaan atraksi, fasilitas dan amenitas wisata, sementara kontra yang terjadi di masyarakat antara lain sikap apriori pada awal pengembangan desa wisatadan pengelolaan keuangan yang tidak transparan sehingga terjadi demonstrasi yang dilakukan oleh masyarakat.

Contoh Tesis 3 : PENEGELOLAAN BERBASIS COMMUNITY BASED TOURISM PADA OBJEK WISATA AIR PANAS PAWAN KABUPATEN ROKAN HULU PROVISI RIAU

Menekankan aspek kegiatan pariwisata berbasis komunitas yang menitikberatkan pada komunitas, dari komunitas, oleh komunitas untuk komunitas.Rokan Hulu memiliki jangkauan yang luas jumlah daya tarik, namun yang menjadi potensi unggulan itu hanya empat; Panas Objek Wisata Pawan, Objek Wisata Air Panas Hapanasan, Objek Wisata Danau Sipogas dan Objek wisata Air Terjun Aek Matua. Objek wisata panas Pawan merupakan objek wisata yang dijalankan oleh PT tiga pihak yaitu Pemerintah Daerah, Pemerintah Desa dan Masyarakat. Orang yang Pekerjaan paling remedi manajemen diberikan kebebasan objek wisata mengelola Hot Pawan oleh pemerintah melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Rokan Hulu. Tapi apakah pemerintah melibatkan masyarakat yang bekerja sebagai pengelola kegiatan pariwisata berbasis masyarakat sebagai kegiatan Perencanaan, Pemodal, Pelaksanaan, Manajemen dan Evaluasi.

Contoh Tesis 4 : PENGEMBANGAN DESA WISATA MELALUI KONSEP COMMUNITY BASED TOURISM

Indonesia merupakan Negara yang kaya akan pariwisata, sehingga industri pariwisata semakin berkembang pesat di Indonesia. Pariwisata di Indonesia saat ini sudah menjadi salah satu pilar perekonomian Indonesia. Indonesia juga saat ini sudah menjadi salah satu destinasi pariwisata yang semakin terkenal bukan hanya di kalangan wisatawan lokal, namun keindahan pariwisata Indonesia sudah melanglangbuana hingga masyarakat-masyarakat di berbegai Negara di dunia. Kemajuan pariwisata beriringan dengan semakin pesatnya pembangunan yang dilakukan di wilayah pariwisata tersebut untuk menunjang infrastruktur pariwisata. Namun, saat ini keberadaan pariwisata dan kemajuannya masih belum bisa memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat di sekitarnya. Pada kenyatannya beberapa provinsi yang menjadi primadona pariwisata di Indonesia masih menjadi provinsi dengan tingkat kemiskinan yang tinggi, ini bisa jadi disebabkan oleh masyarakat yang belum mampu mengelola pariwisatanya sendiri sehingga sektor pariwisata lebih banyak dikuasai oleh para investor. Community based tourism merupakan konsep pariwisata yang berbasis masyarakat, dalam CBT masyarakat di berdayakan untuk mengelola objek wisatanya sendiri. salah satu bentuk dari CBT adalah pengembangan desa wisata.

Contoh Tesis 5 : Pengembangan Community Based Tourism Sebagai Strategi Pemberdayaan Masyarakat dan Pemasaran Pariwisata di Wonosalam Kabupaten Jombang

Pengembangan potensi wisata yang memiliki nilai jual tinggi bila dikelola dan dipromosikan secara tepat dapat menjadi wisata unggulan. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi potensi dan karakteristik wisata potensial, merumuskan model pemasaran destinasi wisata yang ada di Kecamatan Wonosalam Kabupaten Jombang, dan menganalisis kesiapan masyarakat serta program-program yang sudah dilakukan Pemerintah Kabupaten Jombang dalam mengembangkan Community Based Tourism . Melalui pendekatan kualitatif, perolehan data penelitian ini dilakukan dengan wawancara kepada beberapa informan. Temuan penelitian ini adalah pemberdayaan masyarakat dilakukan dalam pengelolaan dan promosi destinasi wisata, selain itu memerlukan strategi yang spesifik dan berkesinambungan. Strategi pengembangan Community Based Tourism dijabarkan dalam aspek manajemen pengelolaan destinasi wisata, aspek sosial ekonomi, dan aspek budaya yang dilakukan melalui penilaian dan kesiapan baik persepsi, partisipasi masyarakat dan keinginan masyarakat terhadap pengembangan destinasi wisata yang ada di daerahnya dan diperlukan strategi pemasaran pariwisata yang sesuai dengan kondisi destinasi wisatanya.

Contoh Tesis 6 : Penerapan Prinsip Community Based Tourism (CBT) Dalam Pengembangan Agrowisata Di Kota Batu, Jawa Timur

Wisata Berbasis Komunitas (CBT) telah muncul sebagai alternatif dari pariwisata arus utama (arus utama) pengembangan. Makalah ini ingin menganalisis penerapan prinsip CBT dalam pengembangan agrowisata di Kota Batu Kota. Penerapan prinsip ekonomi CBT menghasilkan sebagian besar sektor bisnis pariwisata menyerap masyarakat local tenaga kerja dan pendapatan masyarakat yang diperoleh dari belanja wisatawan (tourist expenditure). Penerapan prinsip social CBT dalam pengembangan agrowisata meningkatkan persepsi positif individu tentang perkembangan agrowisata, meningkatkan kebanggaan masyarakat, kekuatan modal sosial menghasilkan perubahan dalam masyarakat. Penerapan prinsip budaya CBT dalam pengembangan agrowisata semakin memperkuat budaya lokal. Interaksi yang timbul antara wisatawan dan masyarakat menghasilkan pertukaran unsur budaya dan masyarakat turis. Penerapan prinsip politik CBT dalam pengembangan agrowisata memperkuat organisasi local berperan dalam mekanisme pengendalian pengelolaan sumber daya pariwisata dan menempatkan masyarakat sebagai pengambil keputusan. Penerapan prinsip lingkungan CBT telah menghasilkan model-model penentuan daya dukung secara lokal.

Contoh Tesis 7 : PENGEMBANGAN PARIWISATA BERBASIS MASYARAKAT ( COMMUNITY BASED TOURISM ) DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

Pengembangan pola pariwisata yang dikenal dengan “ Community Base Tourism ” adalah Pengembangan pariwisata di sekitar kegiatan wisata berlangsung dan berbaur dengan pedesaan komunitas. Nilai tambah yang didapat dari pembangunan berbasis komunitas pariwisata / pedesaan adalah (1) penduduk pedesaan dapat berperan sebagai pelaku, mereka dapat menyediakan tempat berlindung wisatawan, penyediaan makanan dan minuman, layanan laundry, layanan bisnis transportasi, dan layanan lainnya. (2) Meningkatkan konsumsi produk local (sayur mayur, buah-buahan, kerajinan tangan, makanan tradisional, dan lain-lain, kerja sethingga bisa melaju kelangsungan bisnis dan tradisi berbasis lokalitas. (3) Mendorong pemberdayaan masyarakat local tenaga kerja, seperti penyedia atraksi seni budaya, kerajinan tangan, dll). (4) meningkatkan masyarakat kesadaran akan nilai-nilai dan tradisi budaya lokal dan lingkungan alam yang unik dimiliki.Strategi Pengembangan Pariwisata berbasis masyarakat di Desa Bedulu dilihat dari beberapa aspek organisasi manajemen, Profil Wisatawan yang berkunjung, Persepsi Wisatawan yang Menginap pada Jasa, Persepsi Agen Travel terhadap Wisata Bedulu pengelolaan desa, Partisipasi / Pariwisata berbasis masyarakat. mengembangkan dukungan bisa memberdayakan masyarakat desa sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.

Contoh Tesis 8 : Penerapan Konsep Community Based Tourism (CBT) Dalam Pengelolaan Wisata Alam Kampoeng Karts Rammang-Rammang Kabupaten Maros

Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Wisata Alam Kampoeng Karts Rammang-Rammang telah menerapkan prinsip CBT dalam aspek ekonomi, sosial, budaya, politik, dan lingkungan. Pada indikator penghargaan terhadap budaya yang berbeda belum maksimal disebabkan masyarakat setempat belum terbuka terhadap pengunjung dan belum adanya atraksi budaya. Indikator meningkatkan kekuasaan belum terwujud disebabkan POKDARWIS fokus pada pendampingan masyarakat; (2) pengelolaan Wisata Alam Kampoeng Karts Rammang-Rammang sesuai dengan kriteria CBT, yaitu mendapat dukungan masyarakat, bermanfaat ekonomis dan kepariwisataan melindungi budaya dan lingkungan; (3) sudah menunjukkan perkembangan dari segi kuantitas sarana prasarana maupun kualitas pelayanan. Namun ketersediaan air bersih, tempat istirahat, kafe dan penginapan masih minim; (4) Wisata Alam Kampoeng Karts Rammang-Rammang dapat diintegrasikan dalam pembelajaran Geografi untuk mengkaji obyek geosfer melalui pemanfaatannya sebagai media pembelajaran dan sebagai lokasi observasi.

Contoh Tesis 9 : Penerapan Community Based Tourism dalam Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan Sebagai Upaya Pemberdayaan Sosial Ekonomi Masyarakat di Desa Taro Kecamatan Tegallalang ,Gianyar Bali

Hasil Penelitian menunjukkan bahwa penerapan CBT dari aspek ekonominya adalah 1) adanya dana untuk pengembangan wisata berbasis masyarakat seperti english club, 2) terciptanya lapangan pekerjaan seperti pengelola indusri sanggah taro, homestay, supllier, dan pengelola restoran, 3) Timbulnya pendapatan dari penjualan rumput gajah, tenaga kerja. Aspek sosialnya adalah 1) Peningkatan Kualitas Hidup yang bisa terlihat dari meningkatnya bahasa Inggris masyarakat, 2) Peningkatan kebanggaan komunitas di lihat dari motivasi masyarakat untuk menciptkan peluang bisnis pariwisata seperti misalnya akan dibentuk paket wisata yang menjual kamar, trekking, dan makanan tradisional, cooking class juga mulai bermunculan yang mengandalkan bumbu tradisional Bali, 3) Kesediaan dan kesiapan masyarakat ingin lebih terlibat langsung dalam setiap kegiatan kepariwisataan di Desa Taro.

Contoh Tesis 10 :   Community Based Tourism Dalam Pengembangan Pariwisata Bali

Industri pariwisata saat ini sedang berkembang, potensi sumber daya alam dan budaya terus dikembangkan sebagai objek wisata. Pariwisata tidak hanya dimiliki oleh pemerintah atau pengusaha, pariwisata juga harus dimiliki oleh masyarakat sekitar. Karena itu, pariwisata harus dikembangkan dengan konsep berbasis komunitas. Pariwisata berbasis komunitas adalah salah satu bentuk dari pariwisata di mana masyarakat lokal memiliki kendali dan terlibat dalam pembangunan dan pengelolaan, dan sebagian besar manfaat tetap berada di tangan masyarakat lokal. Bali sebagai salah satu tujuan wisata terbaik dunia telah melakukan hal itu. Banyak tempat wisata di Bali telah dikelola dengan konsep wisata berbasis komunitas, seperti Pandawa Pantai dan Pantai Kedonganan di Kabupaten Badung, Tanah Lot di Kabupaten Tabanan, Monyet Hutan Ubud dan Sawah Ceking di Kabupaten Gianyar, dan Desa Penglipuran di Bangli Kabupaten. CBT telah terbukti mampu meningkatkan perekonomian masyarakat setempat dan mampu melestarikan sumber daya alam dan budaya.

Incoming search terms:

  • https://idtesis com/teori-lengkap-tentang-implementasi-community-based-tourism-menurut-teori-dan-pendapat-ahli-dan-contoh-tesis-tentang-implementasi-community-based-tourism/

Related posts:

  • Tesis Implementasi Community Based Tourism Tahun 2020
  • CONTOH TESIS PENGELOLAAN BADAN USAHA MILIK DESA TAHUN 2020
  • Contoh Tesis Strategi Peningkatan Kualitas Jasa Tahun 2020
  • Contoh Tesis Kejadian Stunting Tahun 2020
  • Contoh Tesis Implementasi Percepatan Jaminan Kesehatan Nasional Tahun 2020
  • Contoh Tesis Implementasi Program Gizi Anak Sekolah Tahun 2020
  • Contoh Tesis Dana Desa dan Pemberdayaan Masyarakat Tahun 2020

Leave a Reply Cancel reply

Name (required)

Email (will not be published) (required)

Latest Posts

  • Daftar Judul Tesis Manajemen Pengelolaan Bencana dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Tahun 2023
  • Daftar Judul Tesis Hukum Bisnis dan Kenegaraan dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Tahun 2023
  • Daftar Judul Tesis Ilmu Hukum dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Tahun 2023
  • Daftar Judul Tesis Studi Kebijakan dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Tahun 2023
  • Daftar Judul Tesis Magister Agribisnis dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Tahun 2023
  • Daftar Judul Tesis Psikologi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Tahun 2023
  • Daftar Judul Tesis Keperawatan dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Tahun 2023
  • Daftar Judul Skripsi Akuntansi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Tahun 2023
  • Daftar Judul Tesis Magister PEMBANGUNAN SOSIAL DAN KESEJAHTERAAN dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Tahun 2023
  • Daftar Judul Tesis Magister Kesehatan Masyarakat dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Tahun 2023
  • Perbedaan istilah Ibid, op. cit, loc. cit di dalam Catatan Kaki / Footnote untuk Penyusunan Skripsi / Tesis
  • Kumpulan Contoh Kuesioner Penelitian, Skripsi, Kepuasan Pelanggan DLL yang Profesional
  • MENGENAL SITASI I: VANCOUVER STYLE
  • Teori Lengkap tentang Theory Planned Behaviour (TPB) menurut Para Ahli dan Contoh Tesis Theory Planned Behaviour (TPB)
  • Komponen Kurikulum Menurut Uu No 20 Tahun 2003
  • Teori Lengkap tentang SWOT Analysis menurut Para Ahli dan Contoh Tesis SWOT Analysis
  • Metode Penelitian Hukum Empiris dan Normatif
  • Matriks Jadwal Pelaksanaan Penelitian
  • Menetapkan Jumlah Interval pada Distribusi Frekuensi
  • Pengertian Kemampuan Menurut Para Ahli
  • Teori Lengkap tentang Technology Acceptance Model (TAM) menurut Para Ahli dan Contoh Tesis Technology Acceptance Model (TAM)
  • Teori Lengkap tentang Strategi Komunikasi menurut Para Ahli dan Contoh Tesis Strategi Komunikasi
  • Teori Lengkap tentang Efektivitas Program menurut Para Ahli dan Contoh Tesis Efektivitas Program
  • Pengertian dan Jenis-Jenis Obat dalam (Obat Oral)
  • Pengertian dan Rumus Rate dan Incidence Rate (Disertai Rumus)
  • Daftar Lengkap Perguruan Tinggi Di Surabaya – Jawa Timur
  • MENGENAL SITASI II: HARVARD STYLE
  • Artikel Ilmiah Jenis-Jenis Beserta Contohnya
  • Pembahasan Lengkap Teori E-Government menurut Para Ahli dan Contoh Tesis tentang E-Government
  • Pengertian Konsep, Konstruk, dan Variabel Penelitian
  • Jasa Pembuatan Skripsi
  • Jasa Pembuatan Tesis
  • Jasa Pembuatan Tesis Hukum

 National A ccredited

Retno Dewi Pramodia Ahsani Universitas Tidar, Magelang, Jawa Tengah - Indonesia

Oktavia Suyaningsih Universitas Tidar, Magelang, Jawa Tengah - Indonesia

Nur Ma’rifah Universitas Tidar, Magelang, Jawa Tengah - Indonesia

Elsa Aerani Universitas Tidar, Magelang, Jawa Tengah - Indonesia

contoh community based tourism adalah

 POLICIES

contoh community based tourism adalah

Manuscript Template

contoh community based tourism adalah

Author Guidelines

contoh community based tourism adalah

Online Submissions

  • Other Journals
  • For Readers
  • For Authors
  • For Librarians

 MY STATS

Flag Counter

View My Stats

contoh community based tourism adalah

  • Announcements

Penerapan konsep community based tourism (CBT) di desa wisata candirejo borobudur mewujudkan kemandirian desa

This study aims to examine about the impact of application of the concept of Community Based Tourism (CBT) in realizing the independence of Candirejo village. The research method used is qualitative method. The results of this study are Candirejo Village Management Manager is a Cooperative whose entrepreneurs are the original community of Candirejo Village, The impact of CBT concept implementation can be seen through economic aspects (job diversification, improvement of housing condition and new business development), social (social interaction, community participation, change of mindset), cultural adoption, and environment (improvement of public facilities). With the fulfillment of Indicator Independence of the village is not entirely Candirejo village can be released  of the government aid funds, but at least in the fulfillment of basic needs, community activities, construction of public facilities, and economic activities available can be fulfilled independently

Adiyoso, W. 2009. Menggugat Perencanaan Partisipatif dalam Pemberdayaan Masyarakat. Jakarta: ITS Press.

Dewi Made HU, Fandeli Chafid, Baiquni M. 2013. Pengembangan Desa Wisata Berbasis Partisipasi Masyarakat Lokal Di Desa Wisata Jatiluwih Tabanan, Bali. [Jurnal KAWISTARA: Vol 3 N0 2]. [Internet]. [dikutip tanggal 28 September 2016]. Yogyakarta [ID]: UGM. Dapat diunduh dari: http://jurnal.ugm.ac.id/kawistara/article/download/3976/3251

Nasikun. 1997. Model Pariwisata Pedesaan: Pemodelan Pariwisata Pedesaan untuk Pembangunan Pedesaan yang Berkelanjutan. dalam Prosiding Pelatihan dan Lokakarya Perencanaan Pariwisata Berkelanjutan. Bandung: Institut Teknologi Bandung.

Nuryanti, W. 1999. Heritage, Tourism and Local Communities. Yogyakarta: UGM Press.

Permendagri No 38/2010 tentang BUMDes

Purmada, Dimas Kurnia, dkk. 2016. “Pengelolaan Desa Wisata dalam Perspektif Community Based Tourism (Studi Kasus pada Desa Wisata Gubugklakah, Kecamatan poncokusumo, Kabupaten Malang)” dalam Jurnal Administrasi Bisnis Universitas Brawijaya, Maret 2016. Vol. 32, No.2

Sidik, Fajar. 2015. “Menggali Potensi Lokal Mewujudkan Kemandirian Desa” dalam Jurnal Kebijakan dan Administrasi Publik Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa “APMD”, Yogyakarta, November 2015. Vol.19, No.2.

Suansri, Potjana. 2003. Community Based Tourism Handbook. Thailand : REST Project

Sumodiningrat, Gunawan. 2016. Membangun Indonesia dari Desa. Yogyakarta: Media Pressindo.

Sulistiyani, Ambar Teguh. 2004. Kemitraan dan Model-Model Pemberdayaan. Yogyakarta: Gava Media.

Sutopo, Ariesto Hadi dan Andrianus Arief. 2010. Terampil Mengolah Data Kualitatif dengan NVIVO. Jakarta: Prenada Media Group.

Timothy, D. J. 1999. Participatory Planning a View of Tourism in Indonesia dalam Annals of Research. [Jurnal: Vol 26 No 2]. [Internet]. [dikutip tanggal 28 September 2016]. Dapat diunduh dari: http://www.publishingindia.com/GetBrochure.aspx?query=UERGQnJvY2h1cmVzfC80MjYucGRmfC80MjYucGRm.

Timothy, D.J., “Participatory Planning a View of Tourism in Indonesia” dalam Annuals Review of Tourism Research, XXVI (2) 1999.

Undang – Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa

World Tourism Organization. 2000. WTO News Issue 2. Madrid.

  • There are currently no refbacks.

Voluptaria

Community Based Tourism, dapatkah menjadi solusi bagi Indonesia?

Community Based Tourism, dapatkah menjadi solusi bagi Indonesia?

Istilah Community Based Tourism mungkin sudah tak lagi asing di dalam dunia pariwisata, namun bagi beberapa orang diluar sana hal ini mungkin menjadi suatu hal yang terasa asing di telinga mereka. Dalam upaya pembangunan sustainable tourism istilah Community Based Tourism juga sering terdengar. Jadi apa sebenarnya community based tourism itu? Jika diruntut dari definisi komunitas yang diterangkan oleh WHO (1974), komunitas merupakan kelompok sosial yang ditentukan oleh batas-batas wilayah, nilai-nilai keyakinan dan minat yang sama, serta adanya saling mengenal dan interaksi antara anggota masyarakat yang satu dengan yang lainnya. Kemudian disebutkan oleh Stradas dan Hausler (2003) bahwa Community Based Tourism merupakan suatu pendekatan pembangunan pariwisata yang menekankan pada masyarakat lokal baik yang terlibat langsung maupun yang tidak langsung pada industri pariwisata. Jadi konsep dari Community Based Tourism dapat dikatakan sebagai sebagai suatu upaya pembangunan pariwisata yang bertumpu pada masyarakat lokal. CBT ( Community Based Tourism ) merupakan suatu upaya untuk mencapai Sustainable Tourism yang memberdayakan masyarakat dalam berbagai kegiatan pariwisata. Terdapat tiga kegiatan pariwisata yang dapat mendukung CBT yaitu adventure travel, cultural tourism dan ecotourism . Ketiga kegiatan diatas lebih memanfaatkan keunggulan suatu komunitas ataupun wilayah dimana komunitas itu tinggal. Keunggulan tersebut yang kemudian diolah untuk menjadi daya tarik wisata suatu tempat. Kemudian dalam pembangunan dan pengembanganya dilibatkan pula masyarakat sekitar sebagai salah satu peran penting. Hal ini tentunya akan memberikan kesempatan bagi masyarakat sekitar dalam manajemen dan pembangunan pariwisata yang berujung pada pemberdayaan demokratis termasuk didalamnya pembagian keuntungan secara adil yang dapat meningkatkan taraf hidup mereka. Selain itu, masyarakat juga berhak untuk menjaga dan melestarikan daya tarik wisata mereka. Hal ini bertolak belakang dengan kegiatan mass tourism yang seringkali mengabaikan peran masyarakat dan nilai-nilai yang ada di suatu daerah. 

Dengan diberdayakannya masyarakat lokal dengan kegiatan pariwisata maka diharapkan akan terjadi peningkatan taraf hidup komunitas tersebut. Dengan harapan untuk menyelesaikan permasalahan kemiskinan dan lain sebagainya community based tourism digadang-gadang sebagai solusi terbaik. Namun apakah akan menjadi semudah itu? 

Dalam penerapan konsep CBT, kendala yang seringkali ditemukan adalah masyarakat sekitar yang kurang rukun, aksesibilitas menuju daya tarik wisata yang kurang memadai, ilmu yang dimiliki masyarakat untuk mengolah daya tarik wisata kurang dan lain sebagainya. Disinilah peran dari pemerintah, civitas akademik, dan masyarakat luar dibutuhkan. Sebagai contoh saya ambil Air Terjun Sumber Pitu yang terletak di Kecamatan Tumpang, Malang. Sumber Pitu menurut saya merupakan sebuah atraksi wisata yang sangat menarik. Sumber Pitu memiliki alam yang indah, suasana yang tenang, dan masyarakat yang ramah. Namun mengapa tempat ini belum dikelola menjadi suatu community based tourism ? Tentunya hal ini akan membantu masyarakat sekitar untuk lebih makmur bukan? Sayangnya tidak semudah itu untuk membangun sebuah komunitas. Dibutuhkan lebih dari sekedar dukungan saja untuk membangun CBT. Dalam pembangunan CBT dibutuhkan proses edukasi masyarakat, pembangunan akses menuju lokasi, pembangunan fasilitas pendukung yang tentu saja harus sesuai dengan lingkungan, dan tentu saja dana. Disini sebenarnya peran pemerintah dibutuhkan untuk meningkatkan tidak hanya kesejahteraan mereka, namun juga pendidikan mereka. Harus ada yang menggerakan masyarakat lokal untuk mau berubah menjadi lebih baik dalam mengelola potensi wisata yang mereka miliki. Meskipun terlihat sulit, namun bukan berarti mustahil. Disini peran civitas akademik dibutuhkan untuk menjadi motor penggerak yang dapat membantu masyarakat lokal mengembangkan potensi wisatanya melalui jalan edukasi. Diharapkan pemerintah dan civitas akademik akan terus  mencari potensi yang dimiliki masyarakat lokal untuk dijadikan suatu daya tarik wisata untuk membantu meningkatkan taraf hidup mereka. Lalu bagaimana kita dapat melihat apakah community based tourism ini akan sustain untuk jangka panjang? Bukankah itu merupakan salah satu tujuan sustainable tourism ? 

Seperti kita tahu dalam suatu proses pengembangan usaha yang bertujuan menghasilkan profit, terkadang ditemukan pihak tertentu yang memiliki kepentingan dibalik niat baik mereka. Hal ini juga terkadang terjadi dalam proses pengembangan CBT, entah itu dari masyarakat luar yang ikut berkontribusi ataupun dari masyarakat lokal sendiri. Hal ini lah yang menjadi ancaman untuk keberlangsungan suatu community based tourism. Solidaritas dari masyarakat lokal menjadi hal utama dalam keberlangsungan hidup CBT. Karena tumpuan hidup dari CBT tidak lain adalah masyarakat lokal itu sendiri. Mereka berperan penuh dalam proses pembangunan dan pengembangan CBT. Layaknya roda gigi yang saling terkait dan saling menghubungkan, apabila salah satu dari roda gigi tersebut bermasalah maka akan mempengaruhi performa keseluruhan. Sehingga, untuk dapat membangun suatu CBT yang sustain untuk jangka waktu yang panjang tentunya solidaritas yang baik dari masyarakat lokal akan menjadi poin penting. Terlepas dari berbagai kekurangan yang dimiliki oleh suatu CBT, masyarakat lokal yang bergerak didalamnya harus mampu bergerak secara demokratis, menggunakan pendekatan musyawarah mufakat untuk memecahkan berbagai masalah yang ada. Hal ini terkait dengan pembagian kerja, pembagian keuntungan yang didapat, dan perawatan serta pelestarian daya tarik wisata mereka. Lalu dengan adanya CBT, bagaimana dengan kerusakan sosial dan lingkungan yang terjadi karena adanya kegiatan wisata ditempat mereka? Tentunya dengan adanya kegiatan wisata dan juga peningkatan taraf hidup masyarakat, hal ini tidak dapat dipungkiri akan terjadi. Masyarakat yang sebelumnya hidup guyub rukun dan selalu bergotong royong, kini menjadi masyarakat individualis yang berkumpul hanya untuk alasan berdiskusi mengenai Desa Wisata mereka. Belum lagi kerusakan lingkungan yang terjadi akibat adanya kegiatan wisata, dimana dengan meningkatnya taraf hidup, maka masyarakat akan menjadi lebih konsumtif, dan juga kerusakan lingkungan yang disebabkan wisatawan yang datang ke lokasi dapat menjadi masalah tersendiri yang harus mereka hadapi.

Jadi, apakah community based tourism akan menjadi jawaban atas permasalahan yang ada atau malah akan menciptakan permasalahan baru? Menurut saya, community based tourism bukanlah solusi yang absolut untuk permasalahan yang ada, namun sebagai solusi terbaik yang ada untuk saat ini. Meskipun tidak dapat menghilangkan permasalahan yang ada, konsep community based tourism ada untuk setidaknya mengurangi dampak negatif akibat kegiatan pariwisata. Terkait dengan permasalahan yang akan terjadi dalam pengelolaan dan pengembangan CBT, akan kembali lagi pada peran edukator untuk membantu masyarakat lokal dalam menjalankan kegiatan wisata mereka. Tidak hanya itu, solidaritas masyarakat lokal juga akan turut andil dalam pemecahan masalah-masalah baru yang timbul. Mungkin saja dengan adanya berbagai masalah yang muncul tidak hanya akan mengedukasi masyarakat lokal, namun dapat memunculkan inovasi baru. 

Daftar Pustaka :

  • Arifin, Anindya Putri Raflesia. 2017. “PENDEKATAN COMMUNITY BASED TOURISM DALAM MEMBINA HUBUNGAN KOMUNITAS DI KAWASAN KOTA TUA JAKARTA” dalam Jurnal Visi Komunikasi, Volume 16, No.01. Jakarta:Universitas Mercu Buana.
  • Hausler, Nicole & Strasdas, Wolfgang. 2003. Training Manual For Community Based Tourism. InWEnt, Zschoutau
  • https://comdev.binus.ac.id/pengertian-dan-jenis-jenis-komunitas-menurut-ahli/ Diakses pada 6 Oktober 2020
  • https://www.who.int/healthpromotion/conferences/7gchp/track1/en/#:~:text=%22Communities%22%20are%20groups%20of%20people,with%20specific%20or%20broad%20interests . Diakses pada 4 Oktober 2020
  • Purnamasari, Andi Maya. 2011. “PENGEMBANGAN MASYARAKAT UNTUK PARIWISATA DIKAMPUNG WISATA TODDABOJO PROVINSI SULAWESI SELATAN” dalam Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota, Vol. 22 No. 1. Bandung: Institut Teknologi Bandung.

EDITOR : YANU

Leave a Reply Cancel Reply

Your email address will not be published.

Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment.

What Is Community-Based Tourism? Definition and Popular Destinations

CBT provides communities with the opportunity to play a lead role in their own tourism industries.

  • Chapman University
  • Sustainable Fashion
  • Art & Media

Community-based tourism is a type of sustainable tourism where residents invite travelers to visit or stay in their communities with the intent to provide an authentic experience of the local culture and traditions. These communities are often rural, economically struggling, or living below the poverty line, and community-based tourism (CBT) gives them the opportunity to take full ownership of their area’s individualized tourist industry as entrepreneurs, managers, service providers, and employees. Most importantly, it ensures that the economic benefits go directly towards local families and stay within the community.

Community-Based Tourism Definition and Principles

In 2019, travel and tourism accounted for one in four new jobs created worldwide, while international visitor spending amounted to $1.7 trillion, or 6.8% of total imports, according to the World Travel and Tourism Council. Surveys show that travelers are becoming more interested in sustainable travel trends and supporting small businesses and unique communities. An American Express poll of travelers in Australia, Canada, India, Japan, Mexico, and the U.K. found that 68% plan to be more aware of sustainable travel companies, while 72% want to help boost tourism revenue in the local economies of the destinations they visit.

While CBT is a form of sustainable tourism, it differs slightly from ecotourism and voluntourism . Rather than focusing specifically on nature or charity, CBT is meant to benefit the community and its environments as a whole. From the traveler’s perspective, CBT offers the chance to immerse oneself in local culture and participate in a completely unique tourism experience.

Responsible Travel , a UK-based activism company that has fostered sustainable travel opportunities since 2001, says that CBT can enable tourists to discover cultures and wildlife they might not have experienced in traditional travel situations. “For many, there is nothing like bridging centuries of modern development and making a connection with people whose lives are so very different to our own,” the organization writes. “And those of us privileged enough to have visited, and listened properly, will have discovered that traditional communities often have far more to teach us about our society and our lives than we can teach them about our world.”

CBT is often developed by the destination’s local government but can also get assistance from nonprofits, other community members, private funding, or even partnerships with travel companies. Most of the time, community-based tourism projects are successful due to cooperation between the community and some kind of tourism expert.

For example, in Madi Valley, Nepal, the Shivadwar Village community reached out to the nonprofit World Wildlife Fund ( WWF Nepal ) for help in 2015. The wild animals living in the famous Chitwan National Park were causing issues for the surrounding villages by wandering into their agricultural lands and damaging crops, limiting income and employment opportunities for the residents living in the popular national park’s buffer zone . WWF Nepal was able to apply for funding through their Business Partnership Platform and partnered up with travel company Intrepid to help the village develop a community-based tourism project. Today, 13 out of the 34 homes in Shivadwar Village operate as homestays, with the income going directly to the families.

Pros and Cons

When community members see that tourists are spending money to experience their traditional ways of life, it can empower them to help keep mass exploitative tourism from entering their communities. However, each situation is unique, and there is always room for advantages and disadvantages.

Pro: CBT Stimulates the Economy

A successful CBT program distributes benefits equally to all participants and also diversifies the local job market . Even community members not directly involved with homestays may also act as guides, provide meals, supply goods, or perform other tourism-related jobs. Women in the community are often responsible for the homestay components of a tourism program, so CBT can help create new spaces for women to take on leadership positions and even run their own businesses in underdeveloped communities.

Con: There’s a Potential for Benefit Leaking

Economic leakage happens when money generated by a certain industry, in this case tourism, leaves the host country and ends up elsewhere. According to a study conducted in the Muen Ngoen Kong Community of Chiang Mai, Thailand, some community members felt that “profit from tourism often does not filter down to the local economy and the costs they incurred far outweigh the benefits.” In this case, locally owned small businesses were also operating against stronger international competitors.

Pro: Environmental Conservation

CBT can help create alternative income for communities and less economic dependence on industries that can harm the region’s biodiversity, such as illegal logging or poaching. Members of the Chi Phat Commune in Cambodia, for example, went from relying on logging within Cambodia’s Cardamom Mountains to generating income through sustainable family-run ecotourism businesses with help from the Wildlife Alliance .

Con: It’s Not Always Successful

If the CBT project doesn’t have a clear vision or management strategy from the start, it runs the risk of failing, which could be catastrophic for an underdeveloped community that has already invested time, money, or energy into the project. Successful CBT projects bring communities together with tourism experts who know how to operate in these unique situations.

Pro: CBT Can Help Preserve Cultures

Employment opportunities in CBT don't only provide members with valuable social skills and training, but also can prevent younger generations from leaving their own communities in search of work in larger cities. At the same time, the community will recognize the commercial and social values that tourism places on their natural heritage and cultural traditions, helping foster the conservation of these resources even further.

Community-Based Tourism Destinations

Thanks to the increasing popularity of sustainable tourism and greater accessibility to resources like the internet, small communities and travel experts are continuing to come together to create successful CBT programs.

Chalalan Ecolodge, Bolivia

The Chalalan Ecolodge is a joint indigenous community tourism initiative of the rainforest community of San José de Uchupiamonas and Conservation International (CI) in the Bolivian Amazon. Created in 1995 by a group of villagers and supported by CI through training in skills like management, housekeeping, and tour guiding, Chalalan is the oldest community-based enterprise in Bolivia. By February 2001, the indigenous community received full ownership of the property from CI and now directly supports 74 families.

Korzok, India

Known as the highest permanent civilization on Earth, Korzok village in Ladakh, India, rests at an altitude of 15,000 feet. Although the main source of income for most families here comes from pashmina, the village has developed a CBT model based on homestays with younger community members earning jobs as porters, cooks, and tour guides. During the tourist season from June to September, the occupancy rate for homestays is 80%, earning each family an average of $700 to $1,200 during those four months. For comparison, the average yearly income from pashmina ranges between $320 and $480, making CBT much more lucrative.

Tamchy, Kyrgyzstan

The Central Asian republic of Kyrgyzstan has fully embraced CBT as a tool for growth. The Kyrgyz Community Based Tourism Association has developed 15 different diverse CBT programs around the country, helping to organize and train remote mountain communities in tourism to help improve their economies and living conditions. One of the most successful is the tiny village of Tamchy, found right next to Issyk-Kul, the biggest lake in Kyrgyzstan and one of the largest mountain lakes in the world. The people of Tamchy welcome tourists to stay with them in traditional yurts and homestays while learning about the unique culture there.

Termas de Papallacta, Ecuador

Back in 1994, a group of six Ecuadorians from the small village of Papallacta village in Napo Province purchased a property that included natural thermal pools. The village is on the road to the Amazon from Quito, so it was a popular route but without much draw for tourism outside of that. The property started as a small spa and accommodation space for travelers but has since grown into the country’s most popular thermal wellness resort and one of the largest employers in the area. Termas de Papallacta also runs an independent foundation that helps train the local community in environmental issues and is certified by the Rainforest Alliance.

" Economic Impact Reports ." World Travel and Tourism Council .

Lo, Yu-Chih and Janta, Pidpong. " Resident's Perspective on Developing Community-Based Tourism- a Qualitative Study of Muen Ngoen Kong Community, Chiang Mai, Thailand ." Frontiers in Psychology , vol. 11, 2020, pp. 1493., doi:10.3389/fpsyg.2020.01493

" Chalalan Eco-Lodge, Bolivia: Equator Initiative Case Study Series ." United Nations Development Programme .

Anand, Anupam, et al. " Homestays at Korzok: Supplementing Rural Livelihoods and Support Green Tourism in the Indian Himalayas ." Mountain Research and Development , vol. 32, no. 2, 2012, pp. 126-136., doi:10.1659/MRD-JOURNAL-D-11-00109.1

  • Regenerative Travel: What It Is and How It's Outperforming Sustainable Tourism
  • What Is Sustainable Tourism and Why Is It Important?
  • What Is Ecotourism? Definition, Examples, and Pros and Cons
  • How to Be a Sustainable Traveler: 18 Tips
  • What Is Overtourism and Why Is It Such a Big Problem?
  • These Travel Companies Offer Tours for a Post-Pandemic World
  • Some Advice on How to Travel More Intentionally
  • 10 Small Towns With Big Personalities
  • Best of Green Awards 2021: Sustainable Travel
  • A Community of Superadobe Earthbag Domes Empowers Its Residents
  • What Is Voluntourism? Does It Help or Harm Communities?
  • Somalia's Humanitarian Crisis Is Also an Environmental One
  • Africa’s Great Green Wall to Add 5,000-Acre ‘Olympic Forest’
  • West Virginia Startup Turns Coal Mines Into Lavender Farms and Wellness Products
  • What Is Experiential Tourism?
  • 10 Ways to Be an Eco-Conscious Tourist

IMAGES

  1. Konsep Community Based Tourism (CBT) untuk Pariwisata

    contoh community based tourism adalah

  2. Community-based tourism: A pilot from Indonesia

    contoh community based tourism adalah

  3. What is Community-Based Tourism and Why Does it Matter?

    contoh community based tourism adalah

  4. Eight ways community-based tourism is changing life for locals

    contoh community based tourism adalah

  5. Explore Community-Based Tourism by PHUKET E-MAGAZINE

    contoh community based tourism adalah

  6. Millennium Destinations

    contoh community based tourism adalah

VIDEO

  1. Tourism Management

  2. Inspiring Lecture: Nusantara: Indonesia’s Smart and Sustainable Forest City

  3. 2 Days Symposium on "Comunity-Based Tourism in North East India"

  4. COMMUNITY BASED TOURISM

COMMENTS

  1. PDF Pariwisata Berbasis Masyarakat (Community Based Tourism) di Hutan

    Community Based Tourism merupakan konsep yang dikelola atau dipraktikkan oleh suatu komunitas dan untuk komunitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan Community Based Tourism berdasarkan prinsip keberlanjutan (lingkungan, ekonomi, sosial) pada wisata Hutan Mangrove Pancer Cengkrong di Kabupaten Trenggalek.

  2. Community-Based Tourism

    Article Pendekatan pembangunan dan pengembangan kepariwisataan berbasis komunitas ( community-based tourism - CBT) sering dipandang sebagai alat dalam pengentasan kemiskinan terutama di negara-negara berkembang. Terdapat 5 kriteria yang dikembangkan oleh para ahli sebagai tolok ukur kesuksesan pembangunan kepariwisataan:

  3. Mengenal Konsep Community Based Tourism

    Community Based Tourism (CBT), biasa juga disebut sebagai pariwisata berbasis masyarakat. Secara konseptual, prinsip dasar CBT adalah menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama melalui pemberdayaan masyarakat dalam berbagai kegiatan kepariwisataa. Sehingga, manfaat kepariwisataan sebesar-besarnya diperuntukkan bagi kesejahteraan masyarakat.

  4. Community Based Tourism(CBT) sebagai Metode Bottom-Up dalam

    Menurut Johnson (2010) dalam (Syah, 2019) menjelaskan bahwa Community Based Tourism (CBT) merupakan suatu proses dimana pariwisata digunakan sebagai alat dalam pengembangan masyarakat,...

  5. PDF Community Based Tourism (CBT) sebagai Pendekatan Pembangunan Pariwisata

    It is an approach emphasizing at local society (both for direct and indirect involvement in tourism industry) in the form of giving opportunity access in the management and development of the tourism, which culminates in the political enableness, through more democratic life including fair profit sharing of tourism activities for the local society.

  6. Strategi Pengembangan Community Based Tourism Sebagai Upaya

    ABSTRAK Desa Wisata Puton Watu Ngelak adalah salah satu desa wisata yang menerapkan Community Based Tourism, yaitu pengembangan pariwisata dengan menerapkan pemberdayaan masyarakat, sehing-ga ...

  7. Mengenal Community Based Tourism (CBT)

    Ciri khas ini adalah keterlibatan masyarakat lokal dalam kegiatan pariwisata berbasis komunitas atau masyarakat (Community Based Tourism). Seperti di Desa Terong, Belitung, yang memberdayakan komunitas setempat untuk bersama-sama mengelola potensi yang ada di #DesaWisata tersebut. Desa Nglanggeran, Yogyakarta juga turut menjadi primadona desa ...

  8. Desa Wisata dan pendekatan Ecotourism+Community based tourism

    Community based tourism (selanjutnya disebut CBT) adalah sebuah konsep pengembangan komunitas yang akan menguatkan kemampuan komunitas masyarakat di pedesaan dalam rangka mengatur potensi sumber daya pariwisata yang tersedia sambil memastikan keterlibatan komunitas local tersebut dalam kegiatan itu (Jamal & Getz, 1995; Responsible Travel, 2009).

  9. (PDF) Penerapan konsep community based tourism (CBT) di desa wisata

    The tourism industry in rural areas is able to have an impact on various aspects for both the community and the government. Tourism-based community and village participation is one form of effort ...

  10. (PDF) PENERAPAN COMMUNITY BASED TOURISM (CBT) DALAM ...

    wisata. 594 PENERAPAN COMMUNITY BASED TOURISM (CBT) DALAM PENGEMBANGAN DESA WISATA DI DESA SEKAPUK KECAMATAN UJUNGPANGKAH KABUPATEN GRESIK ISSN 2621-1351 (online), ISSN (print Volume 4 Number...

  11. "Community-Based Tourism" Sebagai Salah Satu Upaya Pemulihan Pariwisata

    Community-Based Tourism (CBT) digunakan sebagai alat pengembangan pariwisata berkaitan erat dengan pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism). Kedua konsep ini menekankan pada manfaat pembangunan bagi masyarakat, khususnya manfaat ekonomi, sosial budaya, dan lingkungan (Richard dan Hall, 2000).

  12. Pengaplikasian Konsep Community Based Tourism sebagai ...

    Pengaplikasian Konsep Community Based Tourism sebagai Upaya Pembangkit UMKM Desa Wisata Tamanmartani ... contoh nyatanya ialah semisal sebuah produk UMKM seharganya Rp20.000,00. yang ketika kemudian dimasukkan ke dalam konteks program yang dibalut dengan wisata maka harga jual produk masyarakat itu bisa naik karena telah menjadi level oleh-oleh ...

  13. Konsep Community Based Tourism (CBT) untuk Pariwisata

    Demikian dari berbagai pemikiran mengenai pariwisata yang "ramah" dalam bidang ekonomi, sosial, dan budaya disepakati sebagai pariwisata berbasis komunitas atau yang tidak merugikan masyarakat sekitar, lingkungan, dan budaya lokal masyarakat, penyebutan ini lebih dikenal sebagai Community Based Tourism (CBT).

  14. PDF Penerapan Konsep Community Based Tourism (Cbt) Dan Pemberdayaan Potensi

    Kata Kunci: Community Based Tourism (CBT), Desa Wisata, Kampung Kopi Sumberdem Abstract: The tourism sector is one of the sectors that contributes greatly to the economy, marked by 5.64% of the contribution of the tourism sector to the total 2020 East Java GRDP. The fact that East Java has many natural attractions and

  15. (PDF) KONSEP WISATA BERBASIS MASYARAKAT

    Community Based Tourism. Tourism in Indonesia is a sector that provides a large income to the country's economy. The experts are required to manage the existing tourism assets. One of the...

  16. PDF Pengembangan Pariwisata Berbasis Masyarakat (Community Based Tourism)

    Konsep (Community Based Tourism) yang diterapkan dalam mencapai pengembangan pariwisata yang berbasisi masyarakat di aplikasikan dalam bentuk partisipasi masyarakat dalam setiap kegiatan, masyarakat memiliki peran penting dalam tahap perencanaan, pelaksanaan dan aspek dampak manfaat dari kegiatan tersebut.

  17. Teori Lengkap tentang Implementasi Community Based Tourism menurut

    Communitybased tourism merupakan sebuah pembangunan berkelanjutan dengan merangkul komunitas sebagai pelaku utama melalui pemberdayaan masyarakat dalam berbagai kegiatan kepariwisataan. Faktor - faktor keberhasilan tersebut adalah Tokoh penggerak

  18. (PDF) PENERAPAN KONSEP COMMUNITY BASED TOURISM DALAM ...

    PENERAPAN KONSEP COMMUNITY BASED TOURISM DALAM PENGEMBANGAN DESA WISATA BURAI. Jurnal Industri Pariwisata 5 (2):201-208. CC BY-NC 4.0.

  19. PDF KEBERHASILAN COMMUNITY BASED TOURISM DI DESA WISATA ...

    Definisi community based tourism (Muallisin,2007) adalah pariwisata yang menyadari kelangsungan budaya,sosial dan lingkungan. Bentuk pariwisata ini dikelola dan dimiliki oleh masyarakat guna membantu wisatawan meningkatkan kesadaran mereka dan belajar tentang tata cara hidup masyarakat lokal.

  20. Penerapan konsep community based tourism (CBT) di desa wisata ...

    "Pengelolaan Desa Wisata dalam Perspektif Community Based Tourism (Studi Kasus pada Desa Wisata Gubugklakah, Kecamatan poncokusumo, Kabupaten Malang)" dalam Jurnal Administrasi Bisnis Universitas Brawijaya, Maret 2016. Vol. 32, No.2. Sidik, Fajar. 2015. "Menggali Potensi Lokal Mewujudkan Kemandirian Desa" dalam Jurnal Kebijakan dan ...

  21. Pengembangan Desa Wisata Melalui Konsep Community Based Tourism

    PENDAMPINGAN PENGEMBANGAN DESA EKOWISATA BERBASIS COMMUNITY BASED TOURISM (CBT) DI PEKON KILUAN NEGERI, TANGGAMUS, LAMPUNG. ... Pendekatan lain dalam mendefinisikan desa wisata adalah yang ...

  22. Community Based Tourism, dapatkah menjadi solusi bagi Indonesia?

    Istilah Community Based Tourism mungkin sudah tak lagi asing di dalam dunia pariwisata, namun bagi beberapa orang diluar sana hal ini mungkin menjadi suatu hal yang terasa asing di telinga mereka. Dalam upaya pembangunan sustainable tourism istilah Community Based Tourism juga sering terdengar. Jadi apa sebenarnya community based tourism itu? Jika diruntut dari definisi komunitas yang ...

  23. What Is Community-Based Tourism?

    Oscar Wong / Getty Images. Community-based tourism is a type of sustainable tourism where residents invite travelers to visit or stay in their communities with the intent to provide an authentic ...